Hati-Hati, Ada Takjil Tutut Berformalin di Bandung

Oleh Arie Nugraha pada 22 Mei 2018, 22:40 WIB
Diperbarui 22 Mei 2018, 22:40 WIB
Takjil berformalin
Perbesar
Petugas BBPOM memeriksa takjil atau penganan berbuka puasa Ramadan di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (Pusdai Jabar), Bandung. (Liputan6.com/Arie Nugraha)

Liputan6.com, Bandung - Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Bandung memeriksa takjil atau penganan berbuka puasa Ramadan di dua lokasi berbeda, yaitu di Pusat Dakwah Islam Jawa Barat (Pusdai Jabar) dan Pasar Sukajadi.

Pemeriksaan rutin setiap tahun yang digelar oleh BBPOM itu bertujuan menelisik kandungan bahan kimia berbahaya yang diduga dijadikan campuran dasar takjil atau penganan berbuka puasa Ramadan.

Menurut Kepala Bidang Pengawasan dan Penyelidikan, Della Triatmani, sebanyak 16 contoh takjil diperiksa oleh tim BBPOM. Misalnya, kerupuk mi, kerupuk seblak, dan rebus bekicot. Della menyebutkan beberapa penganan itu terbukti diolah menggunakan bahan kimia formalin.

"Tadi yang positif ada, namanya tutut (bekicot) positif formalin. Tadi juga di sampling cilok (aci tusuk), namun sesudah diuji hasilnya negatif," ucap Della Triatmani di Jalan Pusdai, Bandung, Senin, 21 Mei 2018.

Della menjelaskan, cepatnya hasil pengujian yang dilakukan dari pukul 16.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB itu tergantung banyak tidaknya kandungan bahan kimia berbahaya dalam penganan berbuka puasa. Selain memeriksa kandungan bahan kimia berbahaya jenis formalin, juga dilakukan pemeriksaan terhadap jenis rhodamine.

Della menyebutkan ciri makanan yang diduga menggunakan bahan kimia berbahaya jenis rhodamine adalah penganan yang berwarna cerah. Warna yang biasanya digunakan adalah kuning dan merah.

BBPOM Bandung menyatakan terus memantau takjil puasa selama satu bulan penuh selama Ramadan. Hal itu pula dilakukan pada saat sahur di beberapa titik yang menjadi pusat perdagangan selama Ramadan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Live Streaming

Powered by