Optimisme Perbankan Salurkan Pembiayaan KPR Dari Banyak Katalis

Oleh boyleonard pada 11 Sep 2019, 11:40 WIB
Optimisme Perbankan Salurkan Pembiayaan KPR Dari Banyak Katalis

Liputan6.com, Jakarta - Perbankan sudah bisa merasa optimis dalam melanjutkan pembiayan KPR, sebab banyak katalis positif pada properti. Ada dua faktornya yaitu penurunan BI 7DRRR menjadi 5% dan berlanjutnya program Nawa Cita. 

Sejumlah katalis positif bagi industri perbankan diharapkan bisa mulai menunjukkan tanda-tandanya hingga akhir tahun ini untuk masuk ke sektor properti.

Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank BTN, Oni Febriarto Raharjo mengungkapkan setidaknya ada dua faktor yang menjadi katalis positif bagi bisnis Bank.

Pertama, kata Oni, penurunan BI 7DRRR yang telah dikeluarkan Bank Indonesia hingga dua kali menjadi 5,5%. Pasalnya Oni menilai kebijakan itu memberikan angin segar bagi perbankan di saat mengetatnya likuiditas pada awal semester II/2019.

Faktor kedua adalah terbentuknya kabinet baru sebentar lagi yang akan terealisaikan setelah pemilu presiden usai, Berlanjutnya kepemimpinan petahana untuk 5 tahun ke depan yang dapat mengkonfirmasi program Nawa Cita akan dipertahankan. Diantaranya Program Sejuta Rumah. Dengan demikian, perbankan dapat menyalurkan kredit pendukung sektor properti dari hulu hingga hilir.

Per Juli 2019, Bank BTN telah menyalurkan pembiayaan perumahan untuk Program Sejuta Rumah sebanyak 503.974 unit dengan nilai kredit sebesar Rp43,64 Triliun. Dengan rincian untuk KPR sebanyak 135.893 unit dan dukungan kredit konstruksi belum KPR 368.081 unit. Khusus untuk segmen subsidi, Bank BTN telah menyalurkan pembiayaan perumahan sebanyak 111.823 unit dalam bentuk KPR dan sebanyak 251.550 unit.

Simak selengkapnya: Cara Pengajuan KPR Subsidi

Dengan pencapaian ini Bank BTN telah mencapai 63% dari target total tahun ini yang dipatok sebanyak 800.000 unit baik untuk pembiayaan perumahan subsidi maupun non subsidi. Apalagi Bank BTN juga mendapat limpahan kuota sebanyak sekitar 2.467 unit.

Namun, bagi pengembang sektor properti belum tumbuh signifikan karena permintaan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) juga belum tinggi. Direktur Marketing Pollux Properti Maikel Tanuwijaya menekankan masih adanya jeda dari penurunan suku bunga ke penurunan suku bunga kredit KPR oleh perbankan.

Kepala Riset Koneksi Kapital Indonesia Alfred Nainggolan justru menilai penurunan suku bunga acuan tidak serta merta bisa menjadi faktor pendorong sektor properti. Alasannya, berkaca pada 2013 lalu, suku bunga acuan yang naik 175 basis poin, tetapi industri properti tetap tumbuh di angka 20,8%.

Karyawan kontrak mau nyicil rumah? Cek caranya di sini

Dia menilai, masih berat bagi industri pada semester kedua tahun ini untuk bisa bangkit. Hal ini jika menilik pada penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang juga melambat. Melambatnya permintaan kredit disebabkan karena permintaan (demand) kredit properti masih terbatas, apalagi untuk hunian mewah (high rise building) seperti kondomium dan apartemen yang sifatnya untuk investasi jangka panjang.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa permintaan kredit properti untuk pasar menengah ke bawah tetap ada seperti program sejuta rumah yang digagas pemerintah. Hal ini sekaligus memberikan retensi terhadap potensi sektor ini untuk rebound.

Head of Research dan Direktur Savills Indonesia Anton Sitorus mengatakan bahwa naik turunnya suku bunga acuan tidak bisa langsung terlihat di sektor properti. Alasannya karena properti bukan termasuk sektor yang likuid.

“Buktinya dari 2017 suku bunga itu rendah, tapi kondisinya sampai sekarang tetap sama saja. Jadi, karena banyak faktor. Bisa saja memberi pengaruh kalau perubahannya besar,”tekannya.

Cek simulasi perhitungan kredit rumah idaman melalui Kalkulator KPR dari Rumah.com!

Temukan beragam tips, panduan, dan informasi seputar properti di Panduan Rumah.com

Hanya rumah.com yang Percaya Anda semua bisa punya rumah