REI DKI Jakarta: Suku Bunga BI Bisa Tekan Pasar Properti

Oleh Fathia Azkia pada 28 Mei 2018, 11:28 WIB
Diperbarui 28 Mei 2018, 11:28 WIB
pasar properti jakarta

Liputan6.com, Jakarta – Kebijakan Pemerintah dalam pembiayaan perumahan masih akan menjadi penentu pasar properti di 2018. Harga dan suplai properti, terutama pada sektor residensial, diperkirakan meningkat pada 2018.

Permintaan pasar akan tetap stabil, terutama pada pasar properti di bawah Rp1 miliar. Proyek properti baru yang menawarkan kemudahan akses, transportasi publik, serta jaminan keamanan akan menjadi faktor utama yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli.

Ketua DPD Real Estat Indonesia DKI Jakarta, Amran Nukman mengungkapkan, "2018 itu ibarat kalau jam sedang di angka lima pagi, jadi posisi take off sudah terlihat. Untuk iklim investasi properti sendiri sangat berpengaruh pada regulasi Pemerintah."

Berdasarkan hasil riset yang dirilis REI DKI Jakarta, sebanyak 55% pengembang anggota menyatakan bahwa kondisi properti 2018 akan tetap sama dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan 34% lainnya optimistis kondisi properti 2018 justru lebih baik.

Di tengah optimisme tersebut, hasil riset juga menyatakan bahwa industri real estat sangat berkaitan dengan kebijakan pemerintah seperti:

  • Perpajakan
  • Perizinan
  • Suku bunga kredit

Simak juga: Asing Beli Properti Di Indonesia, Bagaimana Prosedurnya?

Khusus di DKI Jakarta, perizinan masih menjadi tantangan tersendiri. Birokrasi merupakan faktor dominan dalam mempengaruhi proses perizinan. "Sebanyak 69% responden menyatakan lebih mudah mendapatkan izin di luar DKI Jakarta," imbuh Amran.

Amran juga sempat berpendapat terkait kondisi properti saat ini yang cukup tertekan lantaran melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) juga diperkirakan menjadi salah satu faktor yang bisa menghambat. Meski begitu pengembang tetap yakin kondisi pasar tahun ini makin membaik," ujarnya.

Per 31 Mei 2018, Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan atau 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4,75% setelah dua pekan lalu masih 4,25%. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.

Mau dapat uang tunai total Rp10 juta untuk lima orang pemenang? Ikuti Survey Rumah.com Property Affordability Sentiment Index 2018 di sini!

Survey ini bertujuan untuk mengetahui respon konsumen properti terhadap kondisi pasar properti saat in, yang hasilnya akan berguna bagi para pelaku pasar properti, baik konsumen, penjual, maupun pembuat peraturan.

Dari riset REI DKI Jakarta, terungkap juga bahwa sebanyak 54% pengembang anggota membangun apartemen kelas menengah dan menengah atas, sementara ada 43% developer yang membangun proyek hunian vertikal level atas dan premium.

Untuk harga jual apartemen, 53% pengembang mematok kisaran Rp12 juta sampai Rp30 juta per meter persegi. Besaran uang muka apartemen pun bervariatif, di mana 18% developer menetapkan DP hanya 10% sedangkan 61% pengembang mematok DP 20%.

(Jangan dulu beli rumah dan apartemen sebelum menyimak Review Properti)

Menariknya, dari sisi konsumen, mayoritas 78% pembeli memilih cara bayar kombinasi yakni cicilan pengembang - Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) - tunai keras.

Untuk perumahan tapak, 50% pengembang membangun rumah kelas menengah dan 27%-nya mengembangkan proyek rumah kelas atas.

Dari segi harga, 60% pengembang memasarkan unit rumah di bawah Rp300 juta, 32%-nya menjual antara Rp301 juta hingga Rp600 juta, dan 24% developer mematok di Rp600 juta ke atas.

Mau informasi properti yang komprehensif, mulai dari lokasi properti favorit konsumen, hingga ke harga hunian baik perumahan maupun apartemen di Indonesia tahun ini? Unduh laporan lengkap Rumah.com Property Market Outlook 2018 di sini!

Hanya Rumah.com yang percaya Anda semua bisa punya rumah