TKN: Ramadan Bulan Rekonsiliasi Politik, Tak Ada Lagi Cebong dan Kampret

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 06 Mei 2019, 08:41 WIB
Diperbarui 07 Mei 2019, 18:14 WIB
Moment Keakraban Dua Calon Presiden Usai Debat Pilpres 2019

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding mengatakan, puasa Ramadan momentum untuk membangun rekonsiliasi politik antar anak bangsa yang terbelah karena Pilpres.

"Saatnya hentikan saling caci maki, fitnah, dan tuding-menuding, baik di kehidupan nyata maupun di dunia maya. Jauhi ujaran kebencian dan cobalah untuk mulai saling memaafkan," kata Karding saat dikonfirmasi, Senin (6/5/2019).

Dia menegaskan, seiring laju perkembangan teknologi, godaan terbesar saat berpuasa bukan lagi sekadar menahan lapar, haus, dan marah, tapi juga menahan diri untuk tidak menyakiti dan melukai hati sesama manusia di dua maya.

"Medsos adalah ujian sekaligus godaan berat bagi orang-orang yang berpuasa. Kita barangkali bisa menahan diri untuk tidak berkata kasar dan tidak menebar fitnah di dunia nyata, tapi belum tentu bisa melakukannya di dunia maya. Ini karena di dunia maya kita bisa menjadi siapa saja, bisa menyembunyikan identitas kita dari orang lain, termasuk berpura-pura menjadi orang lain," jelas Karding.

Untuk itu, untuk mengisi Ramadanini, jangan lagi ada hal-hal yang buruk dilakukan, baik di dunia maya ataupun nyata, demi meningkatkan kualitas beribadah.

"Jangan ada lagi sebutan-sebutan yang mendiskreditkan kepada mereka yang berbeda, seperti cebong atau kampret," ungkap Karding.

Dia menuturkan, perbedaan politik telah menghilangkan kehangatan dan keakraban sebagai warga negara. Namun ini tak bisa terus menerus dibiarkan.

"Lewat momentum Ramadan, kehangatan dan keakraban itu harus kita nyalakan kembali. Mari perbanyak silaturrahim, ibadah, amal saleh, dan kegiatan-kegiatan lain yang bermanfaat bagi diri, orang sekitar, dan bangsa ini," pungkasnya.

2 dari 2 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓