Istana Ungkap Tujuan Pertemuan Jokowi dan AHY

Oleh Liputan6.com pada 03 Mei 2019, 14:42 WIB
Seskab Pramono Anung menyatakan Presiden Jokowi mengizinkan sejumlah menteri maju sebagai caleg di Pileg 2019. (Liputan6.com/ Hanz Jimenez Salim)

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjelaskan tujuan pertemuan tertutup Presiden Joko Widodo dengan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono di Istana Merdeka Jakarta, Kamis 2 Mei 2019 sore. Selain silaturahmi, pertemuan Jokowi dan AHY untuk menurunkan tensi ketegangan politik Pilpres 2019.

"Memang apa pun pertemuan seperti ini untuk menurunkan tensi ketegangan yang ada," kata Pramono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (3/5).

Selama pertemuan yang berlangsung kurang lebih 30 menit, Jokowi dan AHY juga menyamakan persepsi mengenai tahapan Pilpres. Misalnya menyamakan persepsi hasil quick count sejumlah lembaga survei di Tanah Air.

"Sehingga dengan demikian sekali lagi teman-teman, pertemuan itu dimaknai silaturahmi, untuk menyamakan persepsi, semakin memperkaya pengatahuan kita tentang demokrasi," ucapnya.

Menurut eks wakil ketua DPR ini, setelah bertemu AHY tidak tertutup kemungkinan Jokowi akan bertemu tokoh politik lain. Namun dia enggan menyebut tokoh politik lain yang dimaksud.

"Pokoknya itulah. Namanya politik dinamis. Politik itu sekarang tidak terlalu kaku," ujar dia.

 

2 of 2

Lihat Jauh ke Depan

Menyoroti RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan
Anggota Baleg DPR Fraksi PPP Achmad Baidowi (kiri) bersama mantan Kepala Humas PGI Jeirry Sumampow saat diskusi bertajuk “RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan” di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (30/10). (Liputan6.com/JohanTallo)

Hal yang sama disampaikan Wakil Sekjen PPP, Ahmad Baidowi. Dia menilai AHY sebagai komandan di partainya telah melihat jauh ke depan yaitu keutuhan negara dan bangsa. Karena itu AHY tak mau larut dalam ego politik pasca Pemilu.

"Itu menunjukkan bahwa AHY sebagai komandan di Demokrat melihat jauh ke depan yakni keutuhan bangsa dan tidak mau larut dalam ego politik Pemilu. Kalah menang hal biasa dalam pemilu," jelasnya dihubungi Jumat (3/5/2019).

Pemilu, lanjutnya, adalah kontestasi yang tujuannya untuk membangun bangsa, bukan menghancurkan. Jika ada yang kalah dalam Pemilu kali ini, masih ada waktu lima tahun mendatang untuk ikut lagi.

"Masih ada lima tahun lagi utk menuju kontestasi. Kita semua wajib menghormati hasil KPU," jelasnya.

Pertemuan AHY, dan juga sebelumnya Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dengan Jokowi, menurutnya sebagai upaya untuk mendinginkan tensi politik.

"Pertemuan antara Jokowi-AHY dan sebelumnya Jokowi-Zulhas itu merupakan upaya mendinginkan suasana politik. Bahwa ada urusan yang lebih besar daripada sekadar hanya urusan kontestasi politik," pungkasnya.

Reporter: Hari Ariyanti dan Titin Supriatin

 

Lanjutkan Membaca ↓