Yusril Jelaskan Polemiknya dengan Rizieq Shihab

Oleh Nafiysul Qodar pada 10 Apr 2019, 23:34 WIB
Diperbarui 12 Apr 2019, 23:13 WIB
Yusril Temui OSO Bahas Putusan MK Terkait DPD

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menghadiri undangan pertemuan dengan ribuan ulama dan kiai di Pondok Pesantren Assidiqiyah, Batuceper, Tangerang, Rabu (10/4/2019).

Dalam pertemuan yang dihadiri cawapres nomor urut 01 KH Ma’ruf Amin itu, Yusril menjelaskan polemiknya dengan pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab yang belakangan ini memanas.

Yusril mengatakan, umat Islam terlibat pembahasan tentang Pilpres 2019 secara intens, termasuk dirinya dengan Rizieq. Diskusi tentang kandidat capres-cawapres itu ia lakukan baik melalui sambungan telepon maupun aplikasi pesan WhatsApp (WA).

Namun komunikasi secara lisan melalui sambungan telepon dengan Rizieq Shihab, menurut Yusril, tidak ada bukti rekamannya. "Tetapi pembicaraan melalui WA terekam dengan baik dan dapat dijadikan alat bukti yang sah dalam sidang pengadilan jika diperlukan," ucap Yusril dalam keterangan tertulis.

Yusril mengatakan, bukti chat dirinya dengan Rizieq dibuka ke publik untuk membela diri dari pihak-pihak yang menudingnya melakukan kebohongan. Ia menegaskan, pernyataan keislaman capres nomor urut 02 Prabowo Subianto lemah berasal dari Rizieq, bukan dirinya.

"Saya sama sekali tidak menilai kadar keislaman seseorang, karena hal itu adalah kewenangan Allah SWT untuk menilainya," ucapnya.

Lebih lanjut, mantan Mensesneg era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu menolak tudingan sebagai pengkhianat oleh Rizieq. Dia juga mengaku tidak pernah melakukan kebohongan publik.

“Rizieq tidak pernah memberi amanat apapun kepada saya terkait dengan Pilpres ini. Jadi apa yang saya khianati?” kata Yusril.

Dia lantas menceritakan pengalamannya selama bertahun-tahun menulis pidato dan surat-surat Presiden Suharto tanpa sekalipun berbuat khianat. Sebagai staf Mohammad Natsir, Yusril juga sering menyiapkan surat-surat dan naskah untuk ditandatangani tanpa cacat dan cela.

Yusril curiga, tuduhan pengkhianat tersebut keluar karena perbedaan pilihan antara dirinya dengan Rizieq pada Pilpres 2019. Padahal dia mengaku tidak pernah menyatakan dukungannya terhadap Prabowo.

“Saya sebelumnya juga tidak pernah menyatakan mendukung Prabowo, sehingga kalau saya memutuskan mendukung Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin, apakah saya berkhianat sama Habib Rizieq atau berkhianat pada Prabowo?” tanyanya.

 

2 of 3

Alasan Yusril Dukung Jokowi-Ma'ruf

Keakraban Jokowi dan Yusril Ihza Mahendra di Istana Bogor
Presiden Joko Widodo berbincang dengan pakar hukum tata negara, Yusril Ihza Mahendra di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/11). Yusril diterima di ruang kerja Presiden sekira pukul 11.25 WIB. (Liputan6.com/HO/Biropers)

Yusril kemudian menjelaskan kenapa dirinya dan PBB memutuskan mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf pada Pilpres 2019. Dalam situasi Indonesia sekarang, dia berpendapat, sangat perlu ulama tampil memimpin.

Sebab itu dirinya menyatakan sependapat dengan hasil Ijtima’ Ulama I yang memutuskan mendukung Prabowo dan mengusulkan dua nama ulama sebagai kabdidat cawapres, yakni Ustaz Abdul Samad dan Habib Salim Segaf Aljufri.

“Tetapi karena Prabowo memilih Sandi yang bukan ulama, saya jadi bertanya-tanya. Ketika Ijtima' Ulama II melegitimasi pilihan Prabowo terhadap Sandi, saya mulai berpikir lain. Sementara di sisi lain, Jokowi yang tidak diminta siapapun untuk memilih ulama sebagai wakilnya, malah memilih Kiai Ma’ruf Amin, Ketua Umum MUI dan Rois Am PBNU. Nah, siapa di antara kita yang meragukan keulamaan Kiai Ma’ruf," ucap Yusril.

Atas dasar itulah akhirnya dirinya dan PBB memutuskan untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf pada Pemilu 2019. "Kalau nanti Jokowi terpilih lagi sebagai Presiden, maka otomatis Kiai Ma’ruf akan mendampingi dan mengawal kebijakan-kebijakan Jokowi agar tidak menabrak Islam dan Umat Islam," ujarnya menandaskan.

3 of 3

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by