Jokowi Dinilai Lebih Paham soal TNI Ketimbang Prabowo

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 31 Mar 2019, 18:06 WIB
Diperbarui 31 Mar 2019, 18:06 WIB
Moment Keakraban Dua Calon Presiden Usai Debat Pilpres 2019
Perbesar
Capres no. urut 01 Joko Widodo atau Jokowi dan Capres no. urut 02 Prabowo Subianto berpelukan usai debat keempat Pilpres 2019 di Shangri-La Jakarta, Sabtu (30/3). Debat mengangkat tema tentang ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional.(Liputan6.com/JohanTallo)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Tim Cakra 19, Andi Widjajanto, menilai calon presiden petahana Jokowidapat menjelaskan dengan rinci tentang materi TNI. Hal itu melingkupi gelar baru TNI, gelar satuan terpadu TNI dan paradigma investasi pertahanan.

"Ini menunjukkan Jokowi memiliki visi dan komitmen untuk menguatkan TNI untuk menghadapi perang teknologi-perang siber masa depan. Sementara, Prabowo cenderung tidak percaya teknologi," ujar Andi di Jakarta,

Menurut dia, Prabowo tidak paham intelijen strategis. Intelijen strategis merumuskan Perkiraan Keadaan (Kirka) dan membuat beberapa skenario ke depan yang dijadikan salah satu pertimbangan untuk membuat kebijakan Presiden.

"Kirka ini ditulis di beberapa produk strategis Kemhan dan TNI seperti Analisis Lingkungan Strategis yang dikeluarkan oleh Kemhan dan dibahas secara rutin di Rakor Intel di Kemhan dan TNI yang dilakukan setiap awal tahun untuk membantu perumusan kebijakan di tahun itu," ujar dia.

Sebagai mantan perwira yang lama bertugas di Kopassandha, ia menilai Prabowo tidak memahami fungsi intelijen strategis.

Sementara itu, terkait dengan perwira yang cenderung asal bapak senang (ABS), ia menilai seolah TNI bekerja tanpa didasari etos kerja dan evaluasi kinerja yang terukur. Prabowo dianggapnya tidak paham bahwa ada target pencapaian Minimum Essential Force yang selalu dievaluasi per tahun.

"Ini untuk menunjukkan bahwa terjadi peningkatan signifikan pembangunan kekuatan TNI sesuai Renstra 2024," ujar dia.

Andi juga menilai ucapan lebih TNI dari TNI menunjukkan arogansi Prabowo yang meletakkan dirinya di atas institusi TNI. Dia menilai karier militer Prabowo yang melesat tidak normal karena bagian dari keluarga Cendana.

"Dan berakhir juga tidak normal karena kasus penculikan aktivis 98. Ini tampaknya membuat Prabowo merasa dirinya lebih penting dari organisasi TNI," ujar Andi Widjajanto.

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓