Fadli Zon Sebut Isu Ekonomi Bantu Naikkan Elektabilitas Prabowo-Sandi

Oleh Liputan6.com pada 20 Mar 2019, 16:25 WIB
Fadli Zon Jadi Narasumber Diskusi Ancaman Hoax dan Keutuhan NKRI

Liputan6.com, Jakarta - Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Fadli Zon mengungkap faktor meningkatnya elektabilitas capres-cawapresnya, Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno. Elektabilitas Prabowo-Sandi naik karena telah menyampaikan program ekonomi yang aktual dan realistis.

"Saya kira program ekonomi ya, dan juga program-program yang langsung aktual disampaikan lebih realistis," kata Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (20/3).

Isu-isu ekonomi itu meliputi impor pangan, kedaulatan pangan, hingga masalah UMKM. Masyarakat, kata Fadli, menginginkan adanya perubahan secara konkret.

"Peciptaan lapangan kerja, kemudian juga upaya-upaya untuk menurunkan tarif listrik, ya artinya memberikan kemudahan-kemudahan hidup bagi masyarakat secara konkret gitu. Dari apa yang sekarang dirasakan masyarakat makin susah," ungkapnya.

Sedangkan terkait survei Litbang Kompas, Fadli menilai lembaga survei Kompas independen. Namun, dia tetap mempercayai bahwa dalam survei internal BPN Prabowo-Sandi tetap unggul dari Jokowi-Ma'ruf.

"Kalau kami sangat optimistis bahwa Prabawo-Sandiaga sekarang leading dan menurut survei internal kami sudah melampaui petahana sekarang ini," ucap Fadli Zon.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi mengatakan, meski kalah secara elektabilitas, Prabowo-Sandi justru unggul di kalangan pemilih menengah ke atas. Kecenderungan tersebut disebabkan karena inkonsistensi kebijakan Jokowi.

Kalangan menengah atas pun melihat adanya pembangunan besar-besaran pemerintah yang dibiayai oleh APBN, subsidi, dan obligasi.

Selanjutnya gololongan menengah atas cenderung mereview peningkatan tax revenue di kemudian hari lantaran merekalah yang menjadi objek pajak. "Menengah ke atas dipikir untuk mendapat pajaknya, ini pula yang kemudian membuat kecenderungan orang menengah ke atas untuk menahan investasinya," jelas Fithra di Jakarta, Rabu (20/3/2019).

Alhasil, ketika melihat kecenderungan ini, mereka cenderung untuk tidak memilih atau bahkan beralih dukungan.

"Belum lagi kalau kita melihat dari fakta obligasi pemerintah, masih dalam 2014-2018 datanya 10 persen jadi kenaikan rata rata 15 persen per tahun itu mengakibatkan swasta kekurangan pembiayaan," urainya.

 

2 of 2

Survei Kompas

Peluk Hangat Jokowi - Prabowo Akhiri Debat Perdana Pilpres 2019
Capres dan cawapres nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi-Ma'ruf Amin bersalaman dengan capres dan cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno usai debat perdana Pilpres 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (17/1). (Liputan6.com/Faizal Fanani)

 

Sementara terkait pemilih loyal kubu 01 yang berasal dari menengah ke bawah, Fithra menengarai lantaran karena banyaknya sumber pembiayaan APBN yang memang diperuntukkan bagi mereka. Petahana kata dia, memiliki sumber daya untuk memanfaatkan posisinya, termasuk menahan penurunan elektabilitas.

"Saya melihat kecenderungan sistematis. Tapi biar bagaimanapun petahana punya resources dan ya sedikit banyak ini yang bisa mereka lakukan untuk menahan penurunan elektabilitas," jelasnya.

Seperti dikutip Merdeka.com dari Harian Kompas Rabu (20/3/2019), berdasarkan survei terbaru Litbang Kompas elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini lebih tipis dibandingkan survei Litbang Kompas Oktober 2018.

Elektabilitas Jokowi dan Prabowo saat ini hanya selisih 11,8 persen. Jokowi - Maruf mendapat perolehan suara 49,2 persen, sedangkan Prabowo-Ma'ruf 37,4 persen. Sebanyak 13,4 persen masih merahasiakan pilihannya.

Metode pengumpulan pendapat menggunakan wawancara tatap muka sejak tanggal 22 Februari - 5 Maret. Survei ini diikuti 2.000 responden yang dipilih secara acak dengan metode pencuplikan sistematis bertingkat di 34 provinsi di seluruh Indonesia. Tingkat kepercayaannya 95 persen dengan margin of error penelitian plus/minus 2,2 persen.

Reporter: Sania Mashabi

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓