Jubir BPN: Survei LSI Denny JA Hiburan dan Berbahaya

Oleh Liputan6.com pada 06 Mar 2019, 20:23 WIB
Diperbarui 06 Mar 2019, 20:23 WIB
Dahnil
Perbesar
Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin unggul sebesar 58,7 persen dibanding Prabowo-Sandi 30,9 persen dalam survei terbaru LSI Denny JA. Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak menyebut survei LSI Denny JA adalah hiburan.

"Kami terus terang ya kami enggak pernah menanggapi serius survei Denny JA. Karena survei itu bagi kami, terus terang kami ragu dengan kredibilitasnya, kita ragu dengan independensinya," kata Dahnil di media center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I No 35, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (6/3/2019).

"Jadi sehingga apa pun survei Denny JA kami sebut lucu-lucuan aja. Kalau dalam politik kita butuh hiburan, salah satu hiburan yang sering kami nikmati itu adalah survei Denny JA," sambungnya.

BPN tak peduli dengan berapa pun hasil angka survei dari LSI Denny JA kepada Prabowo-Sandi. Dahnil memaklumi tugas survei tersebut.

"Mau bilang Pak Jokowi 100 persen enggak apa-apa, silakan saja. 1.000 persen saja enggak apa-apa. LSI Denny JA silakan lakukan tugasnya dengan baik dan benar," ucap Dahnil.

Selain itu, Dahnil geram dengan framing survei yang dibuat LSI Denny JA. Sebab, dalam survei itu pemilih Prabowo-Sandiaga lebih banyak setuju ketimbang pemilih Jokowi-Ma'ruf soal keinginan Indonesia harus seperti dunia Timur Tengah (Arab).

"Anda lihat cara mereka melakukan segmentasi, pembelahan dan framing yang dilakukan, framing yang dilakukan adalah framing rasial dan itu berbahaya. Denny JA ini melakukan survei untuk mempersatukan Indonesia atau memecah belah Indonesia? Itu berbahaya lho," ujar Dahnil.

"Kalau anda perhatikan selama kampanye Pak Prabowo dan Bang Sandi tak pernah gunakan diksi rasial, yang selalu digunakan adalah diksi ekonomi dan pembangunan," sambungnya.

 

2 dari 2 halaman

Survei Berbahaya

Ketua PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak dalam Tabligh Akbar dan Orasi Kebangsaan Muskerwil Pemuda Muhammadiyah di Majenang, Cilacap. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Dahnil memandang, survei-survei Denny JA punya kecenderungan melabel dan memframing hingga sesuatu itu dianggap berbahaya bagi persatuan Indonesia. Menurutnya, survei Denny JA berbahaya bagi persatuan di tengah pemilu yang berusaha menjahit persatuan dalam perbedaan politik dan pilihan politik.

Dia berharap Denny JA tidak memecah belah dengan cara framing survei terkait.

"Itu kan tuduhan. Kalau mereka berusaha mensegmentasikan masyarakat kita kotak-kotakan masyarakat sambil nunggu hasil yang sana radikal yang sini enggak, itu berbahaya," ucapnya.

Jokowi-Ma'ruf Amin dinilai masih unggul atas pasangan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Hal ini terlihat dalam survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, per bulan Februari 2019. Jarak Jokowi dengan Prabowo berkisar 27,8 persen.

Pasangan calon inkumben Jokowi-Ma'ruf Amin mendapatkan elektabilitas sebesar 58,7 persen. Sedangkan Prabowo-Sandiaga memiliki suara 30,9 persen.

 

Reporter: Muhammad Genantan Saputra

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

Lanjutkan Membaca ↓