Prabowo Sempat Bela Ratna, BPN: Bukan Percaya Hoaks, tapi Sensitivitas Sosial Tinggi

Oleh Liputan6.com pada 02 Mar 2019, 06:46 WIB
Jalani Sidang Perdana, Ratna Sarumpaet Kenakan Rompi Tahanan

Liputan6.com, Jakarta - Politikus Partai Demokrat Ferdinand Sinaga menolak bila kasus penyebaran hoaks oleh Ratna Sarumpaet dikaitkan dengan kepemimpinan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto.

"Kasus Ratna itu bukan menunjukkan Pak Prabowo mudah percaya hoaks atau mudah dibohongi, tetapi menunjukan dia memiliki sensivitas tinggi terhadap rasa sosial, kepada sesama manusia,” kata Ferdinand kepada wartawan di Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga Uno itu menegaskan, kasus kebohongan Ratna adalah kasus tunggal yang tidak ada kaitannya dengan Prabowo maupun BPN.

"TKN tidak perlu membumbuinya dengan segala sesuatu yang tidak perlu, apalagi mengatakan Prabowo mudah percaya kebohongan. Kita akan lihat kebenanaran nanti pada saat proses hukum berjalan,” ungkap dia.

Ferdinand justru menuding balik Jokowi yang dinilainya gampang dibohongi. Dia menyebutkan salah satunya adalah ketika Jokowi menunjuk Arcandra Tahar jadi Menteri ESDM 2016 lalu. Padahal, saat itu, Archandra berstatus kewarganegaraan Amerika Serikat. Namun kemudian harus diberhentikan karena melanggar undang-undang.

Selain itu, Ferdinand juga mengatakan pada saat debat kedua Pilpres baru-baru ini Jokowi menyampaikan data-data yang tidak benar.

"Dalam debat kedua, Jokowi menyampaikan data-data keliru. Jadi kalau TKN bicara menuding 02 itu sebagai penyebar hoaks, saya pikir mereka harus berkaca kembali ke dirinya,” ungkap dia. .

 

2 of 2

Ujung Tombak Berantas Hoaks

Sementara itu, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Syadzily menilai kasus dugaan penyebaran berita bohong oleh terdakwa Ratna Sarumpaet tidak politis. Menurutnya, justru kasus itu akan politis jika tidak diungkap oleh polisi.

"Kalau kasus ini tidak terungkap oleh proses hukum pasti akan terjadi politisasi terhadap kekerasan dan itu berbahaya sekali bagi demokrasi kita menjelang pilpres," kata Ace di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (1/3/2019).

Ace mengatakan kasus Ratna harusnya bisa menjadi salah satu ujung tombak untuk memberantas hoaks. Serta akan lebih tidak baik lagi jika penanganan kasus tersebut dibiarkan.

"Saya enggak bisa bayangkan jika Ratna Sarumpaet tidak di tahan oleh kepolisian dan dibuka kasusnya, mungkin kasus kekerasan terhadap Ratna Sarumpaet akan menjadi bulan-bulan politik," ungkap dia.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:  

Lanjutkan Membaca ↓