Ma'ruf Amin Ingin Konsep Ekonomi Keumatannya Jadi Skala Nasional

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 19 Feb 2019, 18:05 WIB
Diperbarui 19 Feb 2019, 18:05 WIB
Ma'ruf Amin Kunjungi Pondok Pesantren An Nawawi

Liputan6.com, Jakarta Calon wakil presiden Ma'ruf Amin, hari ini, mengunjungi Pondok Pesantren An Nawawi, Tanara, Banten. Dalam kesempatan itu, dia memperkenalkan Ponpes yang diasuhnya.

Dia pun mengajak awak media yang menyertainya, untuk melihat Ponpes tersebut. Dimulai dari ruang tamu, Ma'ruf memperlihatkan foto keluarganya, bersama istri pertama Siti Churiyah, bersama empat anaknya.

Di sana dia juga memperlihatkan foto saat masih menjabat sebagai anggota DPRD DKI Jakarta. Dalam foto itu, Ma'ruf terlihat mendatangi lokasi cikal bakal pondok pesantren Darussalam, Karet, Jakarta Selatan.

"Ini foto sekitar tahun 1972," kata Ma'ruf menujukan foto di kediamannya, di kompleks Ponpes An Nawawi, Banten, Selasa (19/2/2019).

Di antara belasan pigura berukuran kecil, terpampang silsilah keluarga Nabi Muhammad, sampai ada nama Ma'ruf. Awak media yang penasaran bertanya apakah, sang kiai merupakan keturunan nabi. "Katanya sih begitu," jawab Ma'ruf.

Tak sampai di sana. Ma'ruf juga menceritakan Ponpesnya pernah dikunjungi para Presiden. Diantaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi.

"Pak Joko Widodo sudah dua kali ke sini. Pak SBY pas jadi presiden juga pernah berkunjung ke sini. Pak JK (Jusuf Kalla) waktu zaman Pak SBY juga," sebut Ma'ruf.

 

2 dari 2 halaman

Pemikiran Ekonomi

Dalam kesempatan itu, dia juga menceritakan pemikiran ekonominya yang berbasis keumatan tumbuh di sini. Bahkan Ma'ruf perlahan-lahan menerapkannya ke para santri. Ada yang diajari membuat roti sampai ternak lele.

Selain itu, dirinya juga mengembangkan Bank Wakaf Mikro, yang memberikan pinjaman ke masyarakat sekitar ponpes. Semuanya ini dilakukan untuk mengembangkan usaha mikro yang ada.

Dia mengutarakan, untuk bank tersebut, dana suntikan sampai Rp 4 miliar baru diturunkan di era pemerintahan Jokowi. Di mana, bisa menarik nasabah sampai 400 orang.

"Mereka sangat senang karena bisa berjualan, bahkan katanya waktu ditanya ada ekspansi bikin warung di sana, bikin warung di sana lagi. Bukan hanya satu warung karena merasa terbantu," kata Ma'ruf.

Bahkan, lanjut Ma'ruf, sistem peminjaman tersebut tidak menggunakan bunga sama sekali. Selain bank, dia juga menjelaskan tentang keberadaan koperasi santri, yang tujuannya membantu menjualkan produk-produk petani lokal. "Ini (yang namanya) arus baru Indonesia," jelas Ma'ruf.

Dia berharap, program tersebut bakal dibawa ke tingkat nasional. Tentu dengan dorongan pemerintahan pusat.

"Ini kalau sudah jalan semua, kita harapkan nanti pemerintah mendorong lebih jauh lagi tentang UMKM dan koperasi keekonomian masyarakat," pungkasnya.

 

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓