Bawaslu Hentikan Kasus Tampang Boyolali

Oleh Liputan6.com pada 29 Nov 2018, 17:30 WIB
Diperbarui 29 Nov 2018, 17:30 WIB
Demo Pemuda dan Mahasiswa Mengecam Ungkapan Tampang Boyolali

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI menghentikan atau tidak melanjutkan laporan terkait kasus 'Tampang Boyolali' yang diucapkan Capres Prabowo Subianto beberapa waktu lalu. Prabowo sebelumnya dilaporkan ke Bawaslu oleh Barisan Advokat Indonesia (BADI) perihal ucapan 'Tampang Boyolali'.

Anggota Bawaslu RI Ratna Dewi Pettalolo mengatakan, kasus ini diberhentikan setelah pihaknya memeriksa sejumlah pelapor, saksi pelapor melalui atau diwakili oleh kuasa hukumnya.

Ratna pun menjelaskan, kapasitas Prabowo saat mengatakan 'Tampang Boyolali' itu tidak dalam kegiatan berkampanye.

"Pernyataan tampang Boyolali tidak dalam kegiatan kampanye tapi dalam kegiatan peresmian posko pemenangan paslon 02 di Kabupaten Boyolali," kata Ratna saat dikonfirmasi, Kamis (29/11/2018).

Ratna menerangkan, peserta yang hadir saat peresmian posko pemenangan paslon 02 itu para pengusungnya. 

Dia pun menegaskan, pernyataan Prabowo mengenai 'Tampang Boyolali' saat itu tak masuk dalam kategori kampanye seperti apa yang dilaporkan oleh pelapor beberapa waktu lalu ke Bawaslu.

"Pernyataan tersebut tidak masuk kategori penghinaan dalam kegiatan kampanye," Ratna menandaskan.

2 dari 3 halaman

Pelaporan

Capres nomor urut 2 Prabowo Subianto dilaporkan ke Bawaslu oleh Barisan Advokat Indonesia (BADI) perihal ucapan 'Tampang Boyolali'. Meski Prabowo sudah meminta maaf, BADI menganggap candaan yang dilontarkan capres nomor urut 2 tersebut memiliki unsur SARA.

"Kami memberikan laporan ini untuk memastikan apakah benar ini adalah sebuah pelanggaran atau bukan, biar ini tidak berlarut dan kemudian ini juga menjadi pelajaran bagi kita semua," ujar Ketua Presidium BADI, Andi Syafrani di Bawaslu, Jakarta, Rabu 7 November 2018.

Menurut Andi, unsur SARA terkait golongan ini dimuat dalam Pasal 280 ayat (1) huruf c UU Pemilu No. 7/2017. Pasal tersebut menyatakan larangan peserta atau tim kampanye menyuarakan penghinaan terhadap seseorang, golongan, agama, ras, serta peserta pemilu lainnya.

"Kita ingin pemilu berjalan dengan damai, santai, bahkan penuh dengan candaan. Tapi tentu candaan yang tidak berbau SARA," kata dia.

 

Reporter: Nur Habibie

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓