Pengamat: Kata Tabok dan Gebuk Longsorkan Citra Positif Jokowi

Oleh Muhammad Radityo Priyasmoro pada 27 Nov 2018, 08:53 WIB
Diperbarui 28 Nov 2018, 09:16 WIB
Jokowi-Ma'ruf Amin

Liputan6.com, Jakarta Pengamat politik Pangi Chaniago mengkritisi tata bahasa Presiden Jokowi. Menurut dia, kata "tabok" dan "gebuk" yang muncul saat Jokowi menyinggung masalah Partai Komunis Indonesia (PKI) berpotensi menurunkan citra positif sang petahana.

"Pernyataan terlalu reaktif direspons justru memberi sentimen negatif pada Jokowi, secara tak langsung melongsorkan citra Jokowi. Karena posisinya sebagai presiden sangat kurang tepat mengeluarkan diksi emosional semacam ini," demikian menurut Pangi lewat siaran pers tertulis diterima, Selasa (27/11/2018).

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research ini khawatir reaksi berapi-api Jokowi bisa memancing gesekan akar rumput yang berbahaya. Hal itu dikarenakan, para pendukung fatanik sang petahana ingin mengeluarkan eksistensi yang merasa tengah terzolimi isu tersebut.

"Relawan pendukung dan tim sukses yang butuh stempel eksistensi sebagai pendukung setia dari Jokowi. Respons berlebihan mereka, justru akan menimbulkan gesekan di tengah masyarakat dan mempertajam konflik karena capres yang didukung terus difitnah," ucap Pangi.

2 dari 2 halaman

Promosikan Sukses 4 Tahun

Ketimbang terus terpancing masalah PKI, Pangi menyarankan Jokowi seharusnya bisa lebih bijak fokus menyongsong Pilpres 2019. Caranya, dengan lebih apik mempromosikan capaian pemerintahannya selama 4 tahun terakhir.

"Sebagai capres petahana semestinya Jokowi harus percaya diri fokus pada tagline-nya "kerja-kerja-kerja" tanpa harus bersikap emosional, fokus mempromosikan prestasi yang sukses, maka sang penantang secara otomaticly bakal kesulitan melawannya," saran Pangi.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓