Cerita Sandi di Purbalingga, Riuh Sambutan Anak SMP hingga Situs Skandal

Oleh Liputan6.com pada 26 Sep 2018, 07:16 WIB
Diperbarui 26 Sep 2018, 07:16 WIB
Sandiaga S Uno saat mengisi seminar kebangsaan di Purwokerto. (Liputan6.com/Galoeh Widura/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Sandiaga S Uno saat mengisi seminar kebangsaan di Purwokerto. (Liputan6.com/Galoeh Widura/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Jakarta - Masjid Agung Daarussalaam Purbalingga mendadak riuh kala Sandiaga Uno datang. Bukan emak-emak yang histeris, kali ini justru para pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang berebut mendekati mantan wagub DKI Jakarta.

Sandiaga bersama rombongan tiba sekitar pukul 12.00 WIB, Selasa, 25 September 2018. Seperti biasa, masjid di pusat kota Purbalingga, Jawa Tengah yang dikelilingi 3 sekolah itu ramai para pelajar pada tengah hari.

Awalnya para siswa hanya tertegun kala sirine kendaraan pengiring berbunyi nyaring di depan Masjid. Begitu Sandiaga turun dan melangkah masuk, mereka berteriak dan berlari mendekatinya.

Pengawal Sandiaga pun kerepotan meladeni ulah bocah-bocah itu. Ada yang merangsek masuk membawa gawai hendak swafoto, ada juga yang membawa buku meminta tandatangan.

Saking ramai-riuhnya, ada seorang pelajar yang terjatuh saat berdesakan. Sandiaga pun menariknya dan mengajak foto bersama.

Hanya sedikit dari pelajar itu yang bisa terpenuhi keinginannya. Selain karena kerumunan, Sandiaga juga buru-buru menunaikan salat dan melanjutkan kegiatan lainnya di Purbalingga.

"Kaget tadi nggak tahu ada Bang Sandi, mau foto bareng tapi ngga bisa," kata Az Zahra siswi MTs Ushriyyah, Purbalingga.

Usai salat, Sandiaga bertemu Imam Masjid Agung Daarussalaam, KH Noer Issja. Dia pun diminta masuk ruangan takmir masjid. Disana, Mbah Noer mendoakan kebaikan bagi Sandiaga dan mengharapkan terwujudnya pemilu yang damai.

 

2 dari 2 halaman

Tanggapi Situs Skandal

Dari Purwokerto hingga Purbalingga, waktu senggang Sandiaga hanya di hotel dan rumah makan. Dia pun merespons soal situs yang memojokkan dirinya. 

"Kan kita sudah sepakat menolak politisasi SARA, menolak perpecahan, dan fitnah," ujarnya.

Dia juga menyerahkan proses hukum situs yang berisi kampanye hitam itu pada kepolisian. Seperti diketahui, Kementrian Komunikasi dan Informasi sudah mengajukan pemblokiran situs tersebut ke ISP (internet service provider).

Saat ini, situs tersebut sudah tidak bisa dibuka, namun copyannya sudah tersebar dan viral di media sosial. Meski demikian, Sandiaga tak ambil pusing. Ia menilai masyarakat sudah cerdas menangkal berita hoax.

"Sudah saatnya kita melangkah menuju kampanye dan demokrasi yang memberikan solusi," ujarnya.

 

Kontributor : Galoeh Widura, Muhamad Ridlo

Lanjutkan Membaca ↓