Andi Arief: Sampai Detik Ini Demokrat Masih dalam Koalisi Prabowo

Oleh Muhammad Radityo PriyasmoroPutu Merta Surya Putra pada 09 Agu 2018, 13:41 WIB
SBY Resmi Usung Prabowo sebagai Calon Presiden 2019

Liputan6.com, Jakarta - Meski sempat didera isu panas terkait ancaman keretakan hubungan koalisi antara Demokrat dan Gerindra, Wakil Sekjen Partai Gerindra Andi Arief menegaskan partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono masih dalam barisan koalisi Prabowo Subianto.

"Meski Partai Demokrat merasa ada jalan salah yang ditempuh Prabowo dalam memimpin koalisi ini, namun sampai siang ini kami masih berada dalam barisan koalisinya. Sampai detik ini," tulis Andi Arief dalam akun twitternya @AndiArief, Kamis (9/8/2018).

Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin terlihat mendatangi rumah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) siang ini. Dia mengungkapkan, kedatangannya karena SBY mengadakan rapat darurat.

"Undangannya hanya menyebutkan rapat ya, rapat darurat gitulah kira-kira," ujar Amir, di kediaman SBY, Jakarta Selatan, Kamis (9/8/2018).

Menurut Amir, undangan yang diberikan sedemikian singkat. Dia pun mengaku belum mengetahui ihwal undangan tersebut. Dia juga menampik jika pertemuan itu untuk membahas perihal cawapres.

"Belum tahu saya. Enggak (cawapres). Undangannya sedemikian singkat ya, hanya undangan saja. Tunggu saja," ucapnya.

Tak lama berselang setelah Amir, Waketum Partai Demokrat Syarief Hasan juga terlihat datang ke kediaman SBY.

Syarief mengatakan, pertemuan itu terkait rapat konsolidasi yang dihadiri pengurus DPP.

"Ada rapat konsolidasi. Pengurus DPP lengkap, mungkin diperluas," kata Syarief.

Syarief sendiri mengaku tidak tahu terkait kabar deklarasi Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang dikatakan akan dilakukan hari ini.

"Tidak tahu, tanya Prabowo. Kita lihat nanti (soal koalisi)," sebutnya.

2 of 2

Alasan Sebut Jenderal Kardus

Politisi Demokrat Andi Arief mengaku geram dengan politik transaksional yang dilakukan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Menurutnya, sebutan "Jenderal Kardus" pantas melekat di Prabowo lantaran langkahnya yang tak cakap dalam memperhitungkan harmonisasi koalisi.

"Pertama Demokrat itu dalam posisi diajak oleh Jenderal Prabowo untuk berkoalisi. Diajak ya, kita tidak pernah menawarkan siapa-siapa (berkoalisi) walau Pak Prabowo menawarkan AHY untuk jadi wakilnya," tegas Andi di Rumah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jalan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (9/8/2018) dini hari.

"Tapi hari ini kami mendengar justru sebaliknya. Ada politik transaksional yang sangat mengejutkan. Itu membuat saya menyebutnya jadi Jenderal Kardus, jenderal yang enggak mau mikir," sambung Andi.

Secara gamblang ia menuding Prabowo menerima lobi-lobi politik, di luar sepengetahuan Partai Demokrat. Karenanya, secara pribadi Andi merasa partainya telah diselingkuhi oleh sang jenderal.

"Kami memberi sarat kepada Pak Prabowo agar dihitung matang untuk mencapai kemenangan. Kami tidak pernah bertemu dengan partai mana pun, kecuali PAN dan PKS. Kita tidak pernah berselingkuh," jelas dia.

Andi juga yakin, bahwa Prabowo telah melakukan politik transaksional dengan menerima suntikan dana segar sebesar Rp 500 miliar. "Saya Andi Arief tidak pernah membuat isu dalam karir politik saya," kata dia saat menjawab keabsahan kabar mahar tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓