Mendagri: Jangan Pilih Kepala Daerah yang Tak Berbuat Apa-Apa Terkait Covid-19

Oleh Putu Merta Surya Putra pada 31 Jul 2020, 17:42 WIB
Diperbarui 31 Jul 2020, 17:43 WIB
FOTO: Mendagri Tito Karnavian Sambangi KPU
Perbesar
Ketua KPU Arief Budiman (kedua kanan) saat menerima kunjungan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (kiri) di Kantor KPU, Jakarta, Kamis (30/7/2020). Kunjungan Tito Karnavian dalam rangka membahas pelaksanaan Pemilihan Serentak 2020. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, Pilkada 2020 menjadi momentum emas untuk memilih pemimpin yang mampu mengatasi persoalan pandemi Covid-19, termasuk dampak sosial ekonominya.

Menurut dia, ini merupakan kesempatan rakyat untuk memilih mereka yang benar-benar punya gagasan serta berbuat nyata untuk mengatasi Covid-19. Karena itu, dia meminta kepala daerah yang tak berbuat apa-apa saat Covid-19 agar tidak dipilih kembali.

"Yang tidak berbuat daerahnya karena Covid-19, ya jangan dipilih kalau saya begitu, jangan dipilih. Pusat sudah all out, daerah juga all out, sehingga akhirnya bisa mengendalikan masyarakat, karena problema pandemi Covid-19 ini sebenarnya problem bagaimana mengendalikan masyarakat yang 270 juta ini taat pada protokol kesehatan. Itu tidak gampang di negara sebesar Indonesia ini," kata Tito dalam laman resmi Kemendagri, Jumat (31/7/2020).

Mantan Kaporli ini menuturkan, pandemi Covid-19 harus dijadikan isu sentral Pilkada 2020, baik dalam rangka menjaga protokol kesehatannya untuk penyelenggara, pengaman, pengawas, dan pemilih.

"Tapi yang lebih utama lagi adalah untuk mendorong atau jadi momentum emas yang mungkin setelah pilkada ini tidak akan ada lagi momentum sebaik ini, untuk memacu mesin daerah, 270 daerah bergerak semua untuk mengendalikan masyarakat mematuhi protokol kesehatan," kata Tito.

 

2 dari 3 halaman

Pertarungan Sehat

Menurut dia, menanggulangi wabah Covid-19 ini bukan pekerjaan pusat saja, tapi tugas bersama. Sebab, jika pusat saja yang sepenuhnya turun, mesin pemerintahan yang bergerak baru 50 persen. Sementara, di era otonomi, sebagian kewenangan ada di tangan daerah.

"Nah 270 (daerah) akan Pilkada. Pilkada itu adalah pertarungan hidup mati untuk kekuasaan di daerah. Nah kita giring isunya menjadi pertarungan sehat, kontestasi sehat, adu gagasan, adu berbuat untuk menangani Covid-19. Apa gagasan para calon bupati atau wali kota atau gubernur untuk menangani Covid-19 di daerahnya dan dampak sosial ekonominya?," tukasnya.

"Pilih mereka yang punya gagasan yang baik, pilih mereka yang bisa mengendalikan. Kalau seadainya yang tidak bisa mengendalikan dan tidak punya gagasan, tidak punya konsep segala macam ya kasihan rakyatnya nanti. Berantakan nanti, Covid-nya di mana-mana. Tapi yang punya konsep, punya keseriusan, punya kesungguhan itu yang terbaik, maka pilihlah. Rakyat itu di negara demokrasi faktanya dia hanya menunjukkan powernya pada saat election atau pemilihan," Tito memungkasnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓