Hubungan Golkar-Nasdem Sulsel Memanas di Pilkada Makassar

Oleh Liputan6.com pada 04 Mei 2020, 16:19 WIB
Diperbarui 04 Mei 2020, 17:59 WIB
Ilustrasi Pilkada Serentak

Liputan6.com, Jakarta - Hubungan DPD Partai Golkar dan DPW Nasdem di Sulawesi Selatan memanas. Itu lantaran Golkar Sulsel merasa dirugikan dengan pernyataan Sekretaris DPW Nasdem Sulsel Syaharuddin Arlip beberapa waktu lalu di sebuah surat kabar di Makassar.

Dalam pernyataannya, Syaharuddin Arlip meminta agar tak ada spekulasi lain bagi bakal calon Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto alias Danny Pomanto jika ingin diusung Nasdem. Dia meminta agar tidak perlu lagi diarahkan pada kandidat yang disodorkan Golkar, yakni Andi Zunnun Armin NH, Putra Plt Ketua DPD I Sulsel Nurdin Halid.

Menanggapi pernyataan itu, Juru Bicara Golkar Sulsel, Muhammad Risman Pasigai menyebut berita Nasdem itu merupakan kesekian kalinya yang menyerang Golkar Sulsel. Bahkan sejak pertengahan Maret lalu, Partai Nasdem Sulsel melalui Sekretarisnya Syaharuddin Alrip menyampaikan sikap menolak bakal calon wakil pendamping Danny Pomanto dari Partai Golkar, Zunnun.

"Dan (Partai Nasdem Sulsel) menolak berkoalisi dengan Partai Golkar di Makassar maupun di Sulsel," ungkap Risman melalui keterangan tertulis, Senin (4/5/2020).

Risman menyatakan, DPD Golkar Sulsel maupun Partai Golkar tidak pernah mengajak Partai Nasdem berkoalisi dalam Pilkada Serentak 2020, termasuk di Kota Makassar. Karena itu, Nasdem Sulsel tidak punya dasar menolak Golkar Sulsel berkoalisi karena Nasdem Sulsel tidak pernah diajak berkoalisi oleh Golkar Sulsel.

"Faktanya adalah, DPP Partai Nasdem di Jakarta yang datang ke kantor DPP Partai Golkar, di mana Partai Nasdem pada momen itu mengajak Partai Golkar untuk berkoalisi pada Pilkada Serentak 2020," terangnya.

Begitu pula soal nama Andi Zunnun Armin NH. Menurut Risman, Golkar Sulsel atau Golkar Makassar, atau partai manapun, tidak pernah mencatatkan nama Zunnun sebagai figur yang diajukan menjadi bakal calon wakil Danny.

"Karena itu, Nasdem Sulsel tidak mempunyai dasar untuk menolak figur ini yang juga merupakan kader Partai Golkar, penolakan Nasdem Sulsel ini mengalami gagal administrasi," ujarnya.

Risman menjelaskan keadaan objektif Danny Pomanto di Golkar saat ini. Menurutnya, dukungan Golkar terhadap Danny tidak bergeser meski ada ancaman dari Nasdem agar Danny meninggalkan calon yang diusulkan Golkar.

"Partai Golkar Sulsel menyambut Danny Pomanto yang telah ditinggalkan oleh Partai Nasdem dan batal dicalonkan oleh Partai Nasdem," tuturnya.

DPD Partai Golkar, lanjut Risman, saat ini sedang menjalankan komitmen membantu Danny bergabung dengan partai politik lain setelah ditinggalkan oleh Nasdem. "Setelah pandemi Covid-19, Danny Pomanto akan menyatakan sikap resminya tentang hal ini," ungkap Risman.

 

 

2 dari 3 halaman

Berembuk Menentukan Wakil Danny

Sementara itu, Waketum DPP Partai Nasdem, Ahmad HM Ali meminta agar Golkar tak memaksakan diri memasang kadernya untuk berpasangan dengan Danny dalam pilwalkot Makassar. Dia menjelaskan, partai koalisi di daerah mestinya berembuk untuk menentukan siapa wakil yang cocok bagi Danny. Bukan main menang-menangan dengan memaksakan kandidat tertentu untuk pendamping.

"Nasdem juga tak ingin menang-menangan karena kami tak bisa mencalonkan sendiri. Harus berkoalisi. Golkar juga jangan memaksakan, harus berembuk bersama partai koalisi dalam menetapkan calon," bebernya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓