Ganjar-Yasin Menang Dominan di Jateng tapi Kalah di 4 Daerah Ini, Kenapa?

Oleh Muhamad Ridlo pada 29 Jun 2018, 16:06 WIB

Diperbarui 01 Jul 2018, 15:13 WIB

Seorang santri memakaikan peci atau kopyah kepada Ganjar Pranowo saat kunjungan ke pesantren El Bayan, Majenang, Cilacap. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Liputan6.com, Purwokerto - Kiranya tak mengejutkan bahwa pasangan calon atau Paslon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimun unggul di nyaris seluruh kabupaten/kota dalam Pilkada Jateng 2018.

Yang mengejutkan adalah rentang suara yang hanya kisaran belasan persen dibanding lawannya Sudirman Said-Ida Fauziyah. Dalam berbagai survei menjelang Pilkada, elektabilitas Ganjar berada di kisaran 70 persen. Namun, ternyata Ganjar diperkirakan hanya memenangi Pilkada di kisaran di bawah 60 persen.

Diakses dari laman infopemilu.kpu.go.id, Jumat, 29 Juni 2018, pukul 14.02 WIB, jumlah suara masuk mencapai 98,43 persen.

Ganjar hanya unggul sebesar 17,6 persen. Perolehan suara Ganjar-Yasin sebanyak 10.197.593 suara atau 58,80 persen. Adapun pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah memperoleh 7.144.539 suara 41,20 persen, meski dalam berbagai survei menjelang Pilkada Jateng 2018 hanya di kisaran di bawah 30 persen.

Lebih mengejutkan lagi, ternyata Ganjar juga kalah, meskipun tipis, di daerah yang dikenal sebagai daerah lumbung suara PDIP, seperti Purbalingga.

Di wilayah ini, Ganjar-Yasin tertinggal tipis dari Sudirman-Ida pada hitung cepat Pilkada Jateng 2018, dengan perbandingan 241.963 suara untuk Ganjar-Yasin berbanding 242.361 suara Sudirman-Ida.

2 of 3

OTT KPK Gerus Suara Ganjar dan PDIP

Perolehan suara Pilkada Jateng 2018, Jumat (29/6/2018). (Liputan6.com/kpu.go.id/Muhamad Ridlo)
Perolehan suara Pilkada Jateng 2018, Jumat (29/6/2018). (Liputan6.com/kpu.go.id/Muhamad Ridlo)

Rentang suaranya, di kisaran 0,5 persen. Sudirman-Ida memperoleh 50,04 persen suara. Adapun Ganjar-Taj Yasin hanya peroleh 49,9 persen suara. Total pemilih yang masuk mencapai 734.366 jiwa

Pengamat Politik Universitas Jenderal Sodirman (Unsoed) Purwokerto, Luthfi Makhasin menilai ada sejumlah faktor dominan yang membuat Ganjar-Taj Yasin kalah dalam di kabupaten yang dikenal dengan knalpot dan rambut palsunya ini.

Operasi tangkap tangan atau OTT KPK terhadap Bupati Purbalingga Tasdi dianggap meruntuhkan kepercayaan publik terhadap calon yang diusung PDIP. Diketahui, Tasdi adalah bupati yang diusung oleh PDIP.

Sebelum ini, Tasdi adalah Ketua DPRD Purbalingga dua periode lantaran PDIP menjadi jawara pada Pemilu di Purbalingga. Tasdi juga merupakan Ketua DPC PDIP Purbalingga tiga periode berurutan.

“Kalau yang kasat mata yang bisa dianalisis adalah hukuman untuk PDIP secara institusi dan Bupati Tasdi yang terkena OTT KPK, saya kira,” katanya saat dihubungi Liputan6.com.

Faktor lainnya, masifnya pemberitaan keterlibatan Ganjar Pranowo dalam kasus korupsi KTP-el juga menggerus kepercayaan publik. Pemberitaan media massa yang negatif meluruhkan kepercayaan Ganjar yang sebelumnya mencitrakan diri sebagai bersih dan tidak korupsi.

Luthfi memperkirakan, pemilih pemula, muda dan rasional-lah yang kini banyak memengaruhi perolehan suara, di luar basis tradisional partai. Mereka banyak mengonsumsi informasi, baik dari media sosial maupun media mainstream.

3 of 3

Kelompok Muda, Kekuatan Mesin Partai dan Kelompok Kultural

Calon Gubernur Jateng, Sudirman Said dalam kunjungan ke Purwokerto. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Calon Gubernur Jateng, Sudirman Said dalam kunjungan ke Purwokerto. (Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Figur pemimpin yang digambarkan media sangat berdampak signifikan terhadap keputusan pilihan figur pemimpin. Pemilih muda dan rasional kini sudah menjelma menjadi kekuatan penentu dalam ajang Pemilu.

“Suara kelompok muda dan kelas menengah berpengaruh signifikan. Ini jenis suara mengambang yang mudah berubah jika berhadapan dengan pilihan rasional,” dia menerangkan.

Luthfi juga memperingatkan, pilihan partai untuk mengusung seorang calon pemimpin daerah hingga presiden juga akan sangat berpengaruh terhadap perolehan suara partai.

Sebab itu, ia pun menyarankan agar partai mengusung calon yang memang benar-benar berkualitas dan jauh dari kesan korupsi atau tindak pidana lainnya. Sebab, hal itu bisa jadi akan berpangaruh terhadap perolehan suara partai.

Luthfi pun tak menampik bahwa kemenangan Sudirman-Ida di Purbalingga yang merupakan kandang banteng, juga wujud kerja keras partai pengusung dan tim suksesnya. Mereka berhasil memengaruhi warga Purbalingga dan daerah lainnya untuk memilih paslon yang diusungnya.

Hal itu bisa dilihat di tiga derah lain di luar Purbalingga, misalnya Kabupaten Kebumen, Brebes dan Kabupaten Tegal. Di Brebes, Brebes Sudirman-Ida unggul dengan perbandingan 60,5 persen berbanding 39,5 persen untuk Ganjar-Yasin.

Di Kabupaten Tegal, Sudirman-Ida juga unggul 55,6 persen berbanding 44,4 persen untuk Ganjar-Ida. Adapun di Kebumen, kekuatan kultural NU dianggap juga semakin solid.

“Basis PKB yang merepresentasikan kaum Nahdliyin di Pantura memang kuat. Primordialisme juga berpengaruh. Sudirman kan asli Brebes,” dia menerangkan.

Lanjutkan Membaca ↓