Ganjar Paparkan 5 Langkah Buat Nelayan Jateng Sejahtera

pada 30 Apr 2018, 18:27 WIB
Diperbarui 30 Apr 2018, 18:27 WIB
Ganjar Pranowo
Perbesar
Calon gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berbagi kisah inspiratif dalam acara Inspirato di SCTV Tower, Jakarta, Selasa (20/3). (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Wonogiri - Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengunjungi Tempat Pendaratan Ikan Waduk Gajahmungkur, Wonogiri, Sabtu 28 April 2018.

Tak sekedar melawat, petahana Pilgub Jateng 2018 itu juga mengajarkan lima skema untuk nelayan setempat agar kesejahteraannya meningkat.

"Pertama adalah memaksimalkan kerja sambilan pada masa paceklik, macam bertani, buruh bangunan, atau usaha lain yang menghasilkan," ujar Ganjar Pranowo, seperti dikutip Jawapos.com, Senin (30/4/2018).

Kedua, lanjutnya, sebagai jalan keluar bagi kendala alat tangkap bisa mengajukan bantuan ke Pemprov Jateng.

Lalu untuk pemasaran atau skema ketiga, Ganjar menyarankan koperasi yang ada membuat divisi penjualan.

"Ada bagian yang tugasnya mencari pasar, jadi tidak bergantung bakul," kata dia.

Keempat, sambung Ganjar, yakni mencoba usaha peternakan seperti kambing atau sapi. Bagian ini, dirinya berjanji mendatangkan para ahli untuk melatih warga. Bantuan bibit kambing dan sapi pun bisa diberikan setelah warga sudah diketahui keseriusannya.

"Terakhir, soal modal kalau mau saya datangkan Bank Jateng. Ada kredit bunga rendah, saya sedang minta skema pembayaran per tiga bulanan agar memudahkan untuk nelayan dan petani," tandas Ganjar Pranowo yang berpasangan dengan Calon Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Keluhan Hasil Tangkapan

ganjar
Perbesar
Calon Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meninjau pembangunan RS PKU Muhammadiyah Wonogiri bersama PD Muhammadiyah Wonogiri. (Foto : liputan6.com / dok.tim ganjar/felek wahyu)

Sebelumnya, Ketua Koperasi Mina Tirta Basuki yang turut mendampingi Ganjar menyampaikan, terdapat sekitar 1.600 jumlah nelayan di Waduk Gajahmungkur.

"Kesejahteraan mereka bergantung pada banyak sedikitnya hasil tangkapan," ucap Basuki.

Dia menyebut, Januari hingga Juni adalah masanya paceklik karena air sedang tinggi-tingginya sehingga membuat ikan sulit didapat. Sedangkan masa panen, lanjut Basuki, adalah pada bulan Juli sampai September.

"Kalau air tinggi, ikan sembunyi di tanaman bawah waduk jadi susah ditangkap. Kalau air surut air pada keluar, saat itulah panen," kata dia.

Saat masa panen, lanjut Basuki, tiap nelayan bisa menangkap enam sampai tujuh ton ikan per hari. Waduk ini sendiri, kata dia, terkenal akan ikan nila, patin, dan tawes.

Selain musim paceklik tadi, adapun kendala lain yakni mahalnya harga alat tangkap seperti jaring dan pancing. Serta saat ini penjualan ikan masih bergantung pada tengkulak.

"Kalau lagi banyak ikan di tempat lain, kadang bakul nggak ke sini, kita nggak bisa jual ya pasrah," pungkas Basuki.

 

Baca berita menarik dari Jawapos.com lainnya di sini.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya