Dituding Sosok Berbahaya oleh Ahok, Ini Respons Sekda DKI

Oleh Delvira Hutabarat pada 18 Agu 2016, 20:36 WIB
Diperbarui 18 Agu 2016, 20:36 WIB
Ini Sekda DKI Jakarta yang Baru
Perbesar
Ahok memberikan ucapan selamat kepada Saefullah usai dilantik menjadi Sekda DKI Jakarta yang baru menggantikan posisi Fajar Pandjaitan yang telah mundur sejak April 2013 lalu, Jakarta, Jumat (11/7/2014) (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Saefullah, menanggapi tudingan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menyebutnya sebagai orang berbahaya, karena memanfaatkan birokrat untuk kepentingan Pilkada DKI 2017.

Saefullah menyebut tudingan Ahok itu tidak benar. Ia pun mengklarifikasi soal pelantikan pejabat eselon III dan IV yang disebut Ahok tanpa persetujuan dirinya

"Enggak ada (tanpa izin Ahok). Semua mutasi pejabat sangat terbuka. Pelantikan itu semua atas izin gubernur. Tiga-empat kali izin gubernur. Cross check saja sama Pak Agus Suradika (BKD)," ujar Saefullah di Balai Kota Jakarta, Kamis (18/8/2016)

Ketua Nahdlatul Ulama (NU) DKI Jakarta itu enggan berkomentar saat ditanya apa motif Ahok menudingnya dengan berbagai alasan. Namun, apabila karena alasan dia maju Pilkada DKI, Saefullah menegaskan, dia belum pasti dicalonkan

"Penguasa Pak Gubernur dan Wagub. Saya kan pembantu gubernur dan wagub, baik- baik aja. Kalau nanti berujung ke pilkada. Itu kan demokrasi, asal fair. Itu juga kalau seandainya saya jadi maju. Saya cuma mau jadi alternatif (cagub)," ucap Saefullah

Saefullah juga membantah tudingan Ahok yang menyebut dia menggerakkan camat dan lurah untuk kepentingannya di pilkada. "Coba aja cek lurah camat ada enggak saya gerakin buat pilih saya. Saya sudah buat edaran bahwa PNS itu netral," ucap Saefullah

Saat ini, kata Saefullah, dia berupaya untuk tidak terlalu mempersoalkan tudingan-tudingan Ahok. Ia tetap berupaya fokus melaksanakan tugasnya sebagai PNS di lingkungan Pemprov DKI

"Bukan soal betah enggak betah, saya kan disumpah. Saya diusulkan Pak Jokowi jadi Sekda, ditandatangani Pak SBY dan yang melantik Pak Ahok. Itu amanat konstitusi," kata mantan Wali Kota Jakarta Pusat itu

Wacana Ahok akan mencalonkan Heru Budi sebagai Sekda penggantinya pun ditanggapi santai oleh Saefullah

"Hak pimpinan. Saya nyalon atau enggak nyalon (pilkada). Kalau dianggap tidak punya kontribusi positif, saya rela (diganti). Jadi staf pun saya rela," pungkas Saefullah.