Pengamat: Peran Santri Sangat Pengaruhi Peta Politik

Oleh Devira PrastiwiLiputan6.com pada 23 Okt 2018, 11:13 WIB
Hari Santri

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting Pangi Syarwi Chaniago menilai, jumlah santri secara proporsional sangat besar. Sehingga, kata Pangi, jumlah tersebut akan dapat memengaruhi peta politik nasional.

Dengan jumlah proporsi yang besar itu, menurut Pangi, sangat wajar ketika pada momentum pemilu seperti ini, para kontestan memperebutkan suara santri, mulai dari kontestasi tingkat lokal sampai pada level nasional.

"Wajar karena ceruk segmen suara santri ini cukup besar dan bisa mendongkrak elektabilitas," ujar Pangi, Selasa (23/10/2018).

Ia menilai, para politikus sangat paham akan keberadaan kaum santri yang secara proporsi sangat besar dan sangat memengaruhi peta politik.

Oleh karena itu, kata Pangi, sangat wajar dukungan dari segmen ini memberi kontribusi yang sangat besar dan nyata terhadap tingkat keterpilihan dalam setiap hajatan konstestasi elektoral.

"Secara kultural para santri sangat manut, taat, dan patuh pada titah para kiai yang mereka anggap sebagai pemimpin dan guru mereka. Dengan demikian, suara santri ada di tangan kiai," ucapnya.

Pangi menilai, untuk mendapatkan dukungan politik dari kalangan santri, para politikus harus melakukan pendekatan yang intens pada para kiai sebagai pemegang otoritas di wilayah pesantren.

Namun, kata dia, para politikus saat ini harus memutar otak dan lebih sensitif karena para kiai juga sudah sangat berpangalaman serta lihai dalam menghadapi situasi politik yang menempatkan mereka dalam pusaran perebutan dukungan.

"Sambutan dan keramahtamahan para kiai dan santri ketika datang untuk berkunjung ke pesantren bukanlah berarti mereka telah memberikan dukungan politik gratis," kata Pangi.

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

2 of 2

Masih Terbuka Lebar

“Selawat Untuk Negeri” santri bersama Habib Syech di MA El Bayan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
“Selawat Untuk Negeri” santri bersama Habib Syech di MA El Bayan Majenang, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Selain itu, Pangi menilai terkait fragmentasi kiai dan pesantren, sebaran, dan jumlah pesantren di seluruh Indonesia, terutama di Pulau Jawa, menjadikan para kiai bersifat lebih otonom dalam membina dan mengurus pesantrennya masing-masing, bahkan sampai urusan politik.

Menurut dia, tidak ada alur komando dan instruksi yang membuat para kiai hanya mengikuti arus dukungan terhadap kandidat tetentu, bahkan yang tergabung dalam satu organisasi sekali pun.

"Situasi ini tentu membuka ruang kepada masing-masing kubu pendukung capres/cawapres untuk melakukan pendekatan yang lebih intensif karena peluang untuk mendapatkan dukungan dari kalangan santri masih terbuka lebar," tegas Pangi.

Pangi menilai, suara santri dan kiai sering kali dijadikan sebagai komoditas politik semata dan dimanfaatkan serta dipakai untuk kepentingan kendaraan politik semata.

Lanjutkan Membaca ↓