Mengenal Lebih Dekat Teknologi Wireless Charging Mobil Listrik

Oleh Liputan6.com pada 28 Sep 2021, 17:00 WIB
Diperbarui 28 Sep 2021, 17:00 WIB
BMW
Perbesar
BMW mulai uji coba sistem wireless charging untuk mobil listriknya. (Carbuzz)

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, salah satu hal yang merepotkan dari mobil listrik adalah menggunakan kabel untuk proses pengecasan. Menyimpan kabel di mobil tentu memakan ruang penyimpanan, selain itu juga terdapat beragam jenis colokan.

 

Untuk itu, ada 2 solusi yang dapat mengurangi masalah pengecasan mobil listrik di atas. Pertama adalah menggunakan teknologi fast charging dimana baterai mobil bisa diisi ulang dalam waktu cepat. Lalu kedua menggunakan teknologi wireless charging yang tidak memerlukan kabel sama sekali.

Opsi pertama sudah banyak diterapkan pada stasiun pengisian daya listrik. Sedangkan wireless charging yang dinilai lebih convenient dan canggih belum digunakan secara umum.

 

Dilansir paultan.org, Senin (27/9/2021), faktor terbesar minimnya pemanfaatan wireless charging karena kurangnya permintaan dari pemilik mobil listrik.

Sebagai contoh di Norwegia. Jumlah Electric Vehicle (EV) di salah satu negara Skandinavia ini sangat banyak, namun sebaliknya permintaan wireless charging masih jarang karena dianggap bukan hal yang mendesak.

"Norwegia adalah contoh yang bagus. Mereka mempunyai jumlah kendaraan EV yang cukup tinggi, namun (warga Norwegia) tidak meminta untuk pembuatan wireless charging," ungkap Johan Hellsing, Principal Expert Motion & Energy at CEVT (China Euro Vehicle Technology AB).

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Mahal

Hellsing mengatakan bahwa biaya pembangunan dan perawatan wireless charging cenderung mahal. Selain itu fasilitas pengisian daya mobil listrik tersedia dalam jumlah banyak di Norwegia.

Akibatnya pemilik mobil listrik di negara tersebut tidak terlalu menuntut adanya pengecasan yang lebih mudah.

Kendati demikian Hellsing memperkirakan teknologi wireless charging akan menjadi kebutuhan yang mendesak bagi pemilik kendaraan listrik di masa depan. Saat ini menurut dia wireless charging belum menjadi perioritas utama.

"Saya percaya bahwa ke depannya wireless charging akan menjadi lebih umum, terutama dengan makin berkembangnya mobil otonom," ujarnya. 

Pasalnya mobil otonom bisa langsung menuju ke lokasi pengecasan tanpa kendali manusia. Dengan wireless charging, penumpang didalamnya tidak perlu keluar masuk mobil untuk mengisi ulang baterai.

"Beberapa tahun lalu, saya kira wireless charging akan menjadi kewajiban. Tapi saya kira dengan berkembangnya teknologi mobil otonom, di mana mobil bisa berjalan dengan sendirinya ke tempat pengisian, kita harus membuat proses pengecasan menjadi otomatis juga," jelasnya.

Sebenarnya saat ini perangkat wireless charging sudah siap digunakan. Bahkan daya pengecasannya sudah cukup mumpuni, mulai dari 10 kW hingga 75 kW.

"Secara teknologi, (wireless charging) cukup mumpuni. Teknologinya sudah mempunyai tingkat efisiensi yang bagus di mana daya pengecasannya mencapai 10 kW atau 20 kW dan bahkan, satu perusahaan bisa sampai 75 kW," tutup Hellsing.

Sumber: Otosia.com

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Yuk Kenali 4 Risiko Mobilitas Saat Liburan untuk Cegah Covid-19

Infografis Yuk Kenali 4 Risiko Mobilitas Saat Liburan untuk Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Yuk Kenali 4 Risiko Mobilitas Saat Liburan untuk Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya