Waspada, Sering Terjebak Macet Bisa Picu Penyakit Kanker

Oleh Arief Aszhari pada 14 Mei 2021, 16:00 WIB
Diperbarui 14 Mei 2021, 16:00 WIB
Depok
Perbesar
Kondisi lalu lintas di Jalan Raya Muchtar, Kecamatan Sawangan yang menjadi salah satu titik macet di Kota Depok. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Liputan6.com, Jakarta - Macet sudah menjadi hal yang biasa bagi pengendara mobil atau motor di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, ataupun Surabaya. Permasalahan ini, memang masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan oleh para pemegang kekuasaan.

Masalah macet ini, memang wajib diselesakan. Pasalnya, menurut peneliti senior dari Universitas Surrey, Inggris, Dr Prashant Kumar, mengatakan bahwa kondisi jalanan macet secara ilmiah dapat meningkatkan potensi sakit orang-orang yang terjebak di dalamnya. Hal tersebut, berkaitan dengan kadar polutan yang ada saat kepadatan lalu lintas terjadi.

Ketika macet, emisi yang keluar dari semua kendaraan terakumulasi hanya di satu titik. Kumar, yang memimpin riset tentang polusi pada 2015, menemukan bahwa pengemudi (dan tentu saja penumpangnya) yang terjebak di kemacetan terkena partikel berbahaya 29 kali lebih banyak daripada yang mengemudi dalam arus lalu lintas yang lancar.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, mengklasifikasikan polusi udara luar ruangan semacam ini sebagai karsinogenik, atau zat yang dapat menyebabkan penyakit kanker pada manusia.

Dengan efek yang cukup berbahaya, ada cara yang bisa dilakukan untuk meminimalisasi hal tersebut dengan tidak "menarik" polutan dari luar ruangan ke dalam mobil. Caranya adalah dengan menutup jendela dan mematikan kipas. Memang, cara ini tidak berlaku bagi mereka yang mengendarai sepeda motor.

2 dari 4 halaman

Menghindari polusi

"Salah satu cara terbaik untuk membatasi pemaparan udara kotor adalah dengan menutup jendela, mematikan kipas, dan memperlebar jarak antara Anda dan mobil yang ada di depan ketika macet atau saat menunggu lampu merah," ujar Kumar, dikutip dari laman resmi Universitas Surrey, surrey.ac.uk.

Kalau kipas atau pengatur suhu perlu menyala, sambung Kumar, pengaturan terbaik adalah dengan menyirkulasikan kembali udara di dalam mobil tanpa menarik udara dari luar.

3 dari 4 halaman

Infografis Olahraga Benteng Kedua Cegah Covid-19

Infografis Olahraga Benteng Kedua Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Olahraga Benteng Kedua Cegah Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓