Penjualan Ambyar karena Pandemi Corona Covid-19, Mitsubishi Fuso Tetap Kuasai Pasar

Oleh Septian Pamungkas pada 21 Mei 2020, 06:16 WIB
Diperbarui 21 Mei 2020, 06:16 WIB
Mitsubishi Fuso eCanter

Liputan6.com, Jakarta - Sektor otomotif menjadi salah satu industri yang terdampak pandemi Corona Covid-19. PT Krama Yudha Tiga Belian Motors (KTB) sebagai distributor kendaraan niaga Mitsubishi Fuso merasakan betul hal itu.

"Pandemi ini telah membawa dampak signifikan terhadap perekonomian, termasuk bisnis kendaraan niaga. Data retail sales kendaraan niaga (semua merek) turun hingga 36,1 persen periode Januari april 2020 dibanding periode yang sama tahun lalu," terang Presiden Direktur KTB Naoya Takai, Rabu (20/5/2020).

Dirinya juga menyebutkan, retail sales Mitsubishi Fuso periode Januari-April 2020 mencapai 9.628 unit atau turun 28,3 persen dari periode yang sama tahun lalu. "Meski begitu kami tetap mendominasi secara absolut dengan pangsa pasar 47,8 persen," tambah pria yang akrab disapa Rocky itu.

Dari data yang dirilis Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), total penjualan retail Mitsubishi Fuso selama April 2020 hanya 1.119 unit atau turun 64 persen dibanding April 2019 sebanyak 3.116 unit.

Sementara itu, Direktur Sales & Marketing KTB Duljatmono menyampaikan segmen yang terdampak parah adalah Medium Duty Truck (MDT).

"Segmen MDT paling drop. Sektor MDT meliputi infrastruktur, komoditas seperti sawit, bauksit, batubara, dan logistik. Tapi sejauh ini yang masih jalan sektor logistik," kata pria yang karib disapa Momon.

2 dari 2 halaman

Jalin Komunikasi dengan Konsumen

Tak ingin pasrah dengan keadaan yang dibayangi pandemi, KTB terus berupaya untuk meningkatkan kinerja dengan menerapkan penjualan secara digital. Cara ini pula dilakukan untuk mempertahankan komunikasi dengan konsumen setianya.

"Strategi kami dalam menghadapi pandemi dengan cara memaksimalkan komunikasi dengan pasar. Mekanismenya ada yang secara online. Kami kelompokan dalam dua jenis, komunikasi normal dan digital communication," katanya.

Disebutkan, komunikasi normal diterapkan pada wilayah-wilayah yang tidak menerapkan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sementara komunikasi digital ditujukan untuk wilayah yang tengah menjalankan PSBB.

"Intinya loyalitas konsumen harus dijaga oleh karenanya kami terus berupaya menjaga komunikasi dengan konsumen," ujar Momon.

Lanjutkan Membaca ↓