Dihajar Corona, Suplai Kendaraan Toyota Lebih Besar Dibanding Penjualan

Oleh Arief Aszhari pada 06 Mei 2020, 09:00 WIB
Diperbarui 06 Mei 2020, 09:00 WIB
20160802-Menteri Perindustrian Hadiri Peluncuran Toyota Calya dan Daihatsu Sigra
Perbesar
Sejumlah mobil Toyota Calya dan Daihatsu Sigra di pabrik PT Astra Daihatsu Motor, Karawang,Jawa Barat, Selasa (2/8). Kolaborasi Toyota dan D

Liputan6.com, Jakarta - Pandemi virus Corona atau Covid-19 yang terjadi di Indonesia, pastinya memiliki dampak negatif bagi industri otomotif. Salah satu yang terkena imbasnya, adalah PT Toyota Astra Motor (TAM), yang mengalami penurunan penjualan yang cukup signifikan.

Dijelaskan Anton Jimmi Suwandy, Direktur Pemasaran PT TAM, dengan kondisi adanya pandemi ini, leasing juga makin ketat, serta adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pastinya ada penurunan penjualan pada Maret 2020.

"Adanya PSBB juga kan penting buat kita, berharap satu atau dua bulan selesai, dan penjualan kembali naik. Untuk April memang masih kita hitung," jelas Anton saat melakukan live Instagram bersama media, di Jakarta, Selasa (5/5/2020).

Lanjut Anton, dampak dari pandemi ini memang mulai terasa pada pekan kedua Maret 2020. Angka penjualan semakin menurun pada pekan ketiga, dan berlanjut hingga saat ini seiring dengan pemberlakuan PSBB di berbagai daerah di Indonesia.

"Kalau penjualan, kalau data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) kan pakai wholesale (pabrik ke dealer) itu Toyota dan Lexus, Januari sekitar 24 ribu unit, Februari 25 ribu unit, dan Maret 26 ribu unit. Wholesale memang relatif masih lancar, karena situasi covid belum meluas, dan belum ada PSBB," tegasnya.

2 dari 3 halaman

Strategi Lain

Namun, Anton menjelaskan jika untuk retail sales (dealer ke konsumen) memang sedikit di bawah prediksi, hanya sekitar 17 ribu unit. "Harapannya kan di atas 20 ribu unit, tapi pekan ketiga dan keempat Maret, Covid sudah mulai, ekonomi juga turun, leasing mulai ketat, dan adanya penurunan retail, serta April masih akan terasa," tegasnya.

Memang, pandemi ini sangat berpengaruh terhadap penjualan. Para APM dipaksa untuk mengubah strategi berjualan, dan kondisi pandemi ini tentunya sangat sulit, karena tidak hanya menghantam penjualan, tapi juga industri secara keseluruhan.

"Toyota itu penjualannya 90 persen domestik, pasti dampaknya sangat tinggi, terutama produksi, Kami memiliki pekerjaan rumah, bagaimana tidak PHK, mengatur efisiensi dan sebagainnya. Untuk penjualan, bagaiaman menjaga demand dan suplai agar kebutuhan konsumen tetap terjaga," pungkasnya.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓