Siap-Siap, 2020 Akan Menjadi Tahunnya Mobil Listrik

Oleh Arief Aszhari pada 30 Des 2019, 19:07 WIB
Diperbarui 30 Des 2019, 19:07 WIB
Mobil Listrik GIIAS 2019
Perbesar
Teknologi fast charging pada mobil listrik DFSK Glory E3 dipamerkan dalam GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2019 di ICE BSD, Tangerang, Jumat (19/7/2019). Glory DFSK E3 hanya perlu waktu 30 menit untuk mencapai 80 persen daya baterai. (Liputan6.com/Fery Pradolo)

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa analis otomotif percaya, 2020 akan menjadi tahunnya mobil listrik. Hal tersebut, berkat gelombang baru kendaraan listrik yang akan datang, terutama dari produsen mobil terkemuka Eropa. Demikian laporan dari The Guardian.

Perusahaan data IHS Markit mengatakan, jumlah model kendaraan listrik yang tersedia untuk pembeli di Benua Biru, akan melonjak dari 100 menjadi 175 hingga akhir tahun depan.

Sementara itu, seleksi untuk kendaraan listrik tersebut juga, bakal tumbuh hingga tahun-tahun mendatang, dan pada 2025 diharapkan akan ada lebih 330 kendaraan lisrik di Eropa.

Dengan meningkatnya jumlah kendaraan listrik yang ada, penjualan diharapkan juga bisa mengikuti. Pada 2019, penjualan kendaraan listrik menyumbang 3,4 persen dari penjualan. Namun, tahun depan diperkirakan bakal menjadi 5,5 persen dengan total sekitar 131 ribu unit kendaraan.

Penjualan kendaraan listrik tersebut, akan terus meningkat pada 2026, hingga mencapai sekiar 1/5 dari penjualan total kendaraan. Di seluruh Uni Eropa, penjualan EV diperkirakan akan melonjak dari 319 ribu unit pada 2019 menjadi 540 ribu pada 2020.

2 dari 3 halaman

Peraturan Baru

Sejumlah peraturan baru akan mulai diberlakukan di Uni Eropa pada 1 Januari 2020. Produsen akan terkena sanksi, jika rata-rata emisi karbon dioksida dari kendaraan melebihi 95 g per kilometer. Jika perusahaan melebihi batas ini, maka harus membayar denda 95 euro untuk setiap gram yang melebihi target, dan dikalikan dengan jumlah total mobil yang terjual.

Meskipun ada aturan tersebut, tidak diharapkan memiliki dampak besar pada penjualan kendaraan listrik. Pasalnya, produsen mobil berhasil melobi untuk aturan yang berarti, kendaraan yang memancarkan kurang dari 50 g karbon dioksida per kilometer memenuhi syarat untuk kredit super.

Artinya, setiap kendaraan listrik yang dijual pada dasarnya dihitung sebagai dua mobil, sehingga jauh lebih mudah bagi pembuat mobil untuk memenuhi target emisi seluruh armada tanpa secara agresif meningkatkan produksi kendaraan listrik.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓