Masa Transisi Kendaraan Listrik di Indonesia, Menuju Transportasi Tanpa Polusi

Oleh Liputan6.com pada 13 Nov 2019, 10:03 WIB
Diperbarui 13 Nov 2019, 10:40 WIB
Konvoi Kendaraan Listrik Sambut Formula E 2020

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia merupakan negara dengan penduduk ke-4 terbanyak di dunia. Menurut Woldometers, saat ini Indonesia memiliki total penduduk sekitar 271 juta jiwa.  Jumlah yang masif tersebut tentunya berdampak pada berbagai macam sektor, salah satunya adalah persoalan mobilitas. Penduduk yang banyak berbanding lurus dengan jumlah kepemilikan kendaraan bermotor yang terus bertumbuh. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2017 terdapat 138.556.669 unit kendaraan bermotor yang ada di Indonesia dan terus bertambah hingga saat ini.

Penggunaan kendaraan dalam jumlah masif tersebut melahirkan beberapa permasalahan terutama di kota-kota besar dengan penduduk yang padat. Selain ruang gerak yang semakin terbatas berwujud kemacetan lalu lintas, soal polusi juga tak kalah pelik. Jakarta, menurut AirVisual sempat menempati urutan teratas kota dengan polusi paling buruk di dunia. Tak bisa dipungkiri, penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar minyak turut berkontribusi dalam menghasilkan asap dan hasil buang yang mencemari udara.

Kendaraan Listrik Jawab Solusi Atas Polusi

Persoalan emisi kendaraan yang mencemari lingkungan menjadi pekerjaan rumah bagi banyak pihak terkait, baik pemerintah, perusahaan otomotif, bahkan masyarakat sebagai konsumen. Pengalihan penggunaan kendaraan pribadi menjadi kendaraan publik untuk mengurangi jumlah kendaraan pun masih dalam tahap proses peralihan budaya. Persoalan fleksibilitas masih menjadi pertimbangan untuk beralih ke transportasi publik.

Solusi lain hadir dalam bentuk bahan bakar alternatif berupa energi listrik. Dibanding bahan bakar alternatif lainnya, kendaraan listrik telah dikembangkan oleh banyak pabrikan otomotif global hingga pada tahap layak digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Kendaraan listrik yang tidak menghasilkan gas buang bersifat polutan menjadi harapan untuk mengatasi masalah polusi.

Indonesia  pun menyambut baik kehadiran arus mobil listrik ke Tanah Air. Terbukti, pada  bulan Agustus 2019 Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) tentang percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik sebagai upaya mendukung pertumbuhan industri ini.

Tak lama setelah itu, sebulan kemudian Electric Motor Show 2019 hadir di Balai Kartini, Jakarta, sebagai pameran mobil listrik pertama di Indonesia. Dalam acara tersebut,  kendaraan listrik dari pabrikan otomotif ternama dunia hingga produk lokal unjuk gigi  pada para pengunjung. Pembahasan mendalam yang menyentuh beragam aspek seputar kesiapan dan seluk beluk kendaraan listrik juga dibahas sebagai perkenalan lebih dalam sebagai persiapan masuknya industri kendaraan listrik ke Indonesia.

 

 

2 of 4

Fitur Autonomous

Selain ramah lingkungan dan memiliki biaya yang lebih ekonomis dalam penggunaan jangka panjang, kelebihan kendaraan ini juga terletak pada pengembangan teknologi yang disematkan di dalamnya. Berbagai pabrikan otomotif ternama yang mengembangkan kendaraan listrik turut berlomba-lomba memasukkan fitur cerdas dalam kendaraan produksinya, salah satunya adalah teknologi berkendara otonom.

Kendaraan otonom merupakan teknologi yang memungkinkan kendaraan untuk membantu pergerakan yang dilakukan oleh pengendara hingga dalam tahap tertinggi mampu menjalankan kendaraan secara mandiri tanpa kontrol dari pengendara. Salah satu pabrikan yang menyematkan teknologi ini pada kendaraannya adalah pabrikan kendaraan listrik, Tesla. Produk Tesla yaitu model 3 juga telah masuk ke Indonesia dan telah dimiliki oleh beberapa pesohor Indonesia salah satunya presenter  Deddy Corbuzier.

Namun, tentunya fitur otonom tidak dapat digunakan sembarangan. Selain kemampuan kendaraan, ekosistem juga harus mendukung  untuk dapat memastikan keselamatan pengguna kendaraan dan lingkungan sekitar. Bicara mengenai penerapan teknologi ini di Indonesia,  menurut Dr.Sasono Rahardjo, M.Eng selaku Manajer Teknik Photosonics Lab BPPT, teknologi autonomous masih membutuhkan waktu sebelum dapat digunakan sepenuhnya. Selain persoalan teknis seperti kemampuan transmisi, perilaku masyarakat dalam menghadapi kendaraan otonom juga menjadi pertimbangan utama.

“Masalah yang paling berat adalah behaviour masyarakat. Behaviour-nya masih belum, situasinya masih belum. Kecuali di area yang kita bisa kontrol, steril seperti LRT,” ucap Sasono.

“Untuk ke jalan umum, untuk lima tahun ke depan engga. Untuk saat ini kan tahapnya masih mobil listrik diterima ga di masyarakat, karena mobil biasa ga bisa, mobil bensin ga bisa. Mobil listrik dulu.” pungkasnya.

3 of 4

Upaya Menggoda Masyarakat

Tak kenal maka tak sayang, ungkapan itu nampaknya cocok menggambarkan upaya yang dilakukan untuk menggaet konsumen beralih pada kendaran listrik. Untuk memperkenalkan dan menarik konsumen, berbagai pihak berusaha melakukan promosi yang memberikan keuntungan apabila menggunakan kendaraan listrik.

PLN yang merupakan pihak paling berpengaruh dalam industri kendaraan listrik nantinya, turut memberikan penawaran menarik bagi masyarakat yang memiliki kendaraan listrik. Untuk masyarakat yang ingin melakukan tambah daya, bagi pemilik kompor dan motor listrik akan diberikan diskon sebesar 75%. Sementara, untuk pemilik mobil listrik akan diberi diskon hingga 100%.

Tak hanya dari segi kendaraan itu sendiri, upaya untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam industri mobil listrik juga hadir dalam bentuk penyediaan infrastruktur pendukung, salah satunya penyediaan tenaga pengisian daya berupa listrik.

Balai Besar Teknologi Konversi Energi yang merupakan bagian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi  sedang berupaya agar masyarakat dapat berpartisipasi dengan menjual energi listrik yang didapatkan dari teknologi fotovoltaik atau panel surya yang mengubah energi matahari menjadi energi listrik.

"Selama ini konsumen baik itu perumahan atau bisnis dan industri kan mendapat tenaga listrik dari penyedia listrik ya. Sekarang kantor, rumah, industri mereka juga memproduksi listrik dengan memasang fotovoltaik. Jadi dia tidak hanya mengonsumsi listrik tapi juga bisa menghasilkan listrik yang bisa dipakai sendiri atau kalau berlebih bisa dijual,” ucap Ir. Riza, M.ENg selaku Kepala Bidang Teknologi Kelistrikan di Balai Besar Teknologi Konversi Energi.

Hingga saat ini, sistem yang memungkinkan konsumen dapat berperan sebagai produsen atau yang disebut prosumer masih dikaji lebih lanjut  terutama terkait penetapan tarif sesuai yang dapat menarik konsumen untuk menjual energi listrik yang dimiliki.

 

4 of 4

Harapan BMW dan Mobil Listriknya

BMW sebagai jenama yang juga telah mulai memasuki pasar mobil listrik Indonesia melalui model i3 juga berharap bahwa pemerintah dapat semakin mendukung dengan memberikan insentif yang membuat masyarakat tertarik untuk memiliki mobil listrik.

“Untuk BMW Indonesia kita merasa sudah mendapat banyak dukungan dari pemerintah. Untuk tahun depan kita berharap dapat memberikan insentif yang menarik untuk pelanggan, misalnya dari hal pajak, kemudian misalnya jalan bebas hambatan tanpa biaya untuk kendaraan listrik,” ucap Jodie O’tania selaku Director of Communications BMW Group Indonesia.

“Kemarin pak Anies sudah membahas mengenai ganjil genap jadi untuk kendaraan listrik dapat melewati ganjil genap. Atau misalnya jalur busway, mobil listrik bisa masuk jalur busway hingga parkir bebas biaya. Apapun yang akhirnya mendukung pelanggan untuk memilih mobil listrik, meskipun harganya lebih mahal tapi mereka bisa mendapat keuntungan jangka panjang,” pungkasnya.

Penulis: Khema Aryaputra

Lanjutkan Membaca ↓