Bahan Bakar B30 Dinilai Lebih Ramah Lingkungan

Oleh Dian Tami Kosasih pada 26 Sep 2019, 12:07 WIB
Diperbarui 26 Sep 2019, 12:07 WIB
Uji Coba Penggunaan Bahan Bakar B30
Perbesar
Sampel biodiesel B0, B20, B30, dan B100 dipamerkan saat uji jalan Penggunaan Bahan Bakar B30 untuk kendaraan bermesin diesel di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (13/6/2019). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama BPDPKS dan Universitas Indonesia secara resmi melaksanakan Biodiesel Goes To Campus dengan tema 'Biodiesel Keren UI' di Universitas Indonesia.

Kepala Badan Litbang ESDM, Dadan Kusdiana memaparkan hasil terkini road test B30 sebagai BBM Ramah Lingkungan.

Dilaksanakan Badan Litbang ESDM dengan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Pertamina dan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi).

Konsumsi bahan bakar rata-rata meningkat 0,87 persen dan power atau daya rata-rata meningkat 0,84 persen. Fungsi komponen kendaraan juga masih berfungsi dengan baik karena oli masih mengikuti spesifikasi, termasuk filternya.

Hasil sementara uji B30 juga menunjukkan penurunan dampak terhadap lingkungan, dimana emisi CO turun sebesar 0,1 – 0,2 gram/km dan emisi PM turun sebesar 0,01 – 0,08 gram/km.

Berdasarkan pengalaman dalam penggunaan B20, implementasi B20 telah mampu mengurangi emisi gas ruang kaca ekuivalen dengan produksi gas buang yang dihasilkan 20.000 bus kecil selama setahun.

“Ada 26 produsen biofuel siap memasok biofuel dan tahun depan akan ada tambahan satu atau dua pabrik baru”, kata Dadan.

 

2 dari 2 halaman

Pengujian B30

Ada tujuh merek kendaraan yang disediakan oleh Gaikindo, yang sebagian besar merek perusahaan kendaraan Jepang. Persentasi ini memenuhi syarat karena hampir 70 persen mobil Indonesia merupakan produksi Jepang. Setiap kendaraan diuji oleh tiga sopir secara bergantian untuk memastikan kondisi kendaraan.

Selain pengujian kendaraan, pemerintah juga menyiapkan antisipasi penambahan konsumsi biosolar. Selama tahun 2017-2018, rata-rata konsumsi solar bersubsidi sebesar 15 juta kiloliter, ditambah konsumsi solar yang tidak disubsidi sekitar 17 juta kiloliter, sehingga total konsumsi sekitar 32 juta kiloliter.

Untuk itu pemerintah memastikan pasokan biofuel dari para produsen mampu memenuhi peningkatan kebutuhan biofuel untuk campuran B30. Jumlah produksi biofuel Indonesia terbesar di dunia dengan kapasitas produksi produsen biofuel sebesar 12 juta kiloliter. Produksi biofuel tersebut cukup untuk memasok B30 dan tiap tahun akan terus meningkat.

 

 

Lanjutkan Membaca ↓