Perjalanan Tiga Motor Antik di Djogjantique Day 2019

Oleh Switzy Sabandar pada 26 Agu 2019, 15:02 WIB
Djogjantique Day 2019

Liputan6.com, Yogyakarta - Perhelatan Djogjantique Day 2019 baru saja berlalu. Ribuan orang datang dan berkumpul di ajang bertemunya pecinta motor antik dan klasik yang digelar pada 23 sampai 25 Agustus lalu di Manda Krida Yogyakarta.

Ada yang menarik dari acara ini dan harus selalu diingat. Satu areal dijadikan landmark motor antik yang umurnya tua.

Sekira 20 motor klasik milik sejumlah kolektor di Yogyakarta ini berjajar rapi. Di setiap sisinya terdapat tulisan berisi keterangan tentang motor-motor itu.

“Ini mirip dengan museum motor antik yang tujuannya memberi edukasi kepada masyarakat,”ujar Ardi Sinchan, ketua panitia Djogjantique Day 2019, Sabtu (24/8).

Motor antik yang dipajang di landmark beragam fungsi dan kegunaannya. Ada motor medis, motor untuk pengawalan, dan sebagainya. Liputan6.com mengulik tiga motor antik yang terdapat di sana.

Pertama, Norton Dominator. Motor keluaran 1949 sampai 1962 ini berkapasitas 500 cc dengan mesin 4 tak katup atas dan dua silinder segaris. Motor yang dipajang di area landmark Djogjantiqueday 2019 ini adalah tipe pertama 1949 model 7.

Norton membajak desainer Triumph Speedtwin yang bernama Bert Hopwood, untuk mendominasi pasar motor Inggris. Rentang produksi yang panjang, membuat banyak model memakai tipe mesin ini, antara lain, model 7, model 77, model 88, dan model 99.

Kedua, HD-JD. Motor keluaran 1922-1929 ini lahir dari pabrikan motor dua bersaudara Harley dan Davidson asal Wisconsin. Perhelatan balap di Amerika kala itu bertumpu pada tipe motor J Series ini.

JD yang dipajang ini keluaran 1926 dan belum memiliki rem depan. HD baru menerapkan teknologi rem depan pada 1928. Warna resmi standar orisinil seperti yang menempel pada motor ini yakni Olive Green.

Ketiga, Matchless-G3/L. Motor keluaran 1939 sampai 1946 ini berkapasitas 350 cc dengan tipe mesin 4-Tak katup atas dan satu silinder. Diproduksi lebih dari 80.000 unit, versi L merupakan lightweight sehingga bobotnya lebih ringan 25 kilogram.

Motor antik ini menjadi mesin Perang Dunia II tentara sekutu. Tipe ini favorit pasukan Kerajaan Inggris karena memiliki suspensi depan teledraulik yang membuat berkendara lebih stabil di medan berat.

 

2 of 2

Menjadi Lebih Berguna

Djogjantique Day 2019
Ribuan motor antik dan unik mengikuti perhelatan tahunan Djogjantique Day 2019 di Mandala Krida Yogyakarta (Liputan6.com/ Switzy Sabandar)

Sinchan menuturkan sebagai komunitas pecinta motor antik, Motor Antique Club Yogyakarta (MACY), merasa prihatin dengan maraknya aksi 'klitih' di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Mereka berinisiatif untuk mengajak anak muda yang punya ketertarikan terhadap otomotif untuk nongkrong bareng.

“Ada sekitar 40-an anak dan kami berbincang soal banyak hal, termasuk bisa berkreasi di motor bahkan bisa mendapatkan keuntungan dari kreasi motor,” tuturnya.

Lebih dari tiga dasawarsa berdiri, MACY ingin menjadi lebih berguna di masyarakat. Menurut Sinchan, basecamp MACY sering didatangi masyarakat yang mengeluhkan persoalannya.

“Kami berusaha membantu, jika tidak bisa membantu secara langsung, kami memfasilitasi,” kata Sinchan.

Melalui motor antik, MACY juga berupaya untuk mengangkat pariwisata di Yogyakarta. Perhelatan ini adalah salah satu contohnya.

Lanjutkan Membaca ↓