Rem Khusus Balap Berbahaya untuk Sehari-hari

Oleh Liputan6.com pada 24 Apr 2019, 13:02 WIB
Diperbarui 24 Apr 2019, 13:02 WIB
Brembo

Liputan6.com, Jakarta - Anda mungkin pernah berandai-andai untuk menggunakan sistem pengereman mobil atau motor balap untuk kendaraan harian. Tentu dengan tujuan agar lebih percaya diri saat mengerem.

Jika pernah, lebih baik tak usah direalisasikan. Sebab, pemakaian rem balapan tak cocok untuk kendaraan harian, karena justru akan membahayakan pengendara.

Dilansir Zing, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah fungsi sistem pengereman itu sendiri. Sebab, pola kerja sistem pengereman untuk kendaraan balap berbeda dengan kendaraan yang dipakai sehari-hari.

Pada rem kendaraan sehari-hari, ketika pengemudi menginjak pedal rem, bantalan rem akan mengencangkan cakram rem untuk membuat mobil melambat. Tapi tidak untuk kendaraan balap.

 

2 dari 3 halaman

Selanjutnya

Sistem rem pada kendaraan balap hanya akan bekerja ketika ambang suhu tertentu tercapai. Jadi, jika Anda adalah penggemar balapan seperti MotoGP atau Formula 1, pasti akan menyaksikan pemanasan dari setiap pembalap.

Saat pemanasan atau warm up lap itu, pembalap akan sering mengerem terus menerus untuk mendorong suhu sistem rem naik. Ini adalah alasan utama bahwa pabrikan mobil tidak memasang rem balap untuk kendaraan harian. Karena untuk menghindari insiden berbahaya.

 

Sumber: Otosia.com

3 dari 3 halaman

Fungsi Utama Rem Bukan untuk Berhenti, Lalu Apa?

Banyak pengendara yang bisa membawa motor tanpa bisa menggunakan rem dengan baik. Tak sedikit juga yang memiliki pola pikir bahwa jika ingin menghentikan kendaraan, tinggal rem saja. Tahukah Anda jika salah melakukan pengereman berpotensi mencelakakan diri sendiri dan orang lain?

Instruktur Rifat Drive Labs, Eko Supriyono mengakui bahwa kebanyakan pengendara akan mengatakan fungsi rem hanya untuk menghentikan kendaraan. Seperti saat ia melakukan bimbingan kepada para driver ojek online di Pangkalan Udara Pondok Cabe, sebagian besar calon pengemudi ojek online tersebut berkata demikian.

 

 
 

 

"Lalu kami buktikan, apa benar jika ngerem, kendaraan itu akan langsung berhenti? Karena kecepatan 30 km/jam saja, kita rem dalam-dalam kendaraannya belum tentu berhenti, yang ada akan nyerosot, selip," ujar Eko saat dihubungi Liputan6.com via telepon, Jumat (9/2/2018).

Menurutnya, fungsi rem yang sebenarnya adalah untuk memperlambat dan menghentikan putaran roda saja.

"Kendaraannya belum tentu berhenti," katanya.

Teknik penggunaan rem motor ternyata bergantung pada laju kendaraan. Bila kecepatannya di bawah 30 km/jam, penggunaan rem belakang lebih disarankan. Namun bila kecepatan berada pada 30-80 km/jam, teknik yang disarankan ialah menggunakan rem depan dan belakang secara bersamaan.

"Jangan mengoptimalkan salah satunya. Saat laju motor pelan dalam kondisi jalanan yang licin, penggunaan rem depan justru berpotensi membuat pengendaranya terjatuh. Rem depan sebaiknya dioptimalkan ketika kecepatan motor di atas 80 km/jam sambil menekan rem belakang," ujarnya.

 
 
Lanjutkan Membaca ↓