Ternyata, Gaya Berkendara Memengaruhi Umur Busi Sepeda Motor

Oleh Arief Aszhari pada 19 Apr 2019, 18:16 WIB
Busi Motor

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu komponen yang penting dalam sepeda motor, adalah busi. Dengan fungsi membakar bahan bakar hingga bisa digunakan sebagai sumber tenaga, menjadikan komponen tersebut sangat memengaruhi performa kuda besi kesayangan.

Lalu, dengan fungsinya yang cukup penting tersebut, apakah gaya berkendara akan memengaruhi umur busi secara keseluruhan?

Melansir laman resmi Suzuki Indonesia, gaya berkendara yang baik memang memengaruhi performa dan konsumsi bahan bakar. Semakin baik gaya berkendara, maka performa mesin akan lebih maksimal, dan juga konsumsi bahan bakar yang semakin irit.

Untuk penggunaan busi, gaya berkendara memang cukup berpengaruh, meskipun pengaruhnya tidak terlalu besar. Gaya berkendara stop and go, atau sering mengulur dan menarik gas secara tiba-tiba, dapat mengurangi umur busi.

Faktor terbesar yang memengaruhi umur busi, adalah ruang bakar yang tidak sehat atau tidak bersih. Ruang bakar yang tidak bersih akan membuat busi cepat kotor, dan kondisi inilah yang membuat busi akan cepat mati. Bahkan hanya bisa bertahan dalam beberapa bulan saja.

2 of 3

Selanjutnya

Faktor lainnya yang memengaruhi umur busi, adalah pengaturan karburator yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan kerapatan busi. Terlalu longgar akan membuat bensin yang digelontorkan lebih banyak dan tidak terbakar maksimal. Kondisi ini akan membuat busi terus basah dan rentan mati.

Paling penting, ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk menjaga busi tetap maksimal, baik dalam usia ataupun performanya, yakni campuran udara dan bahan bakar pas yang harus tepat, kompresi tidak ada kebocoran, dan busi harus tetap dalam kondisi bersih.

 

3 of 3

Hati-Hati, Ini Akibatnya Jika Salah Pasang Busi

Banyak faktor yang menjadi penyebab busi cepat rusak, akibatnya kinerjanya tidak optimal. Salah satu faktor yang paling dominan akibat busi tidak dirawat dengan baik, terutama saat melakukan pemasangan dan pengencangan.

Misalnya, jika terlalu kendur, maka dapat menyebabkan bocornya kompresi yang diakibatkan adanya celah yang timbul di antara busi dan cylinder head. Selain itu busi yang kendur juga dapat meningkatkan risiko overheat karena perpindahan panas yang tidak sempurna yang diterima oleh busi.

 

 
 

 

“Kerusakan lainnya yang dapat timbul oleh pemasangan busi yang kendur adalah akibat getaran mesin saat menyala dapat menyebabkan busi rusak atau terlepas dari cylinder head,” jelas Diko Oktaviano, Technical Support PT NGK Busi Indonesia.

Menurut Diko, kerusakan busi juga dapat terjadi apabila busi dipasang terlalu kencang. Metal shell akan mengalami stress akibat tekanan torsi yang berlebih sehingga busi akan mengalami patah pada bagian ulirnya.

“Jika terjadi hal seperti ini maka sebagian patahan busi akan tertinggal di dalam cylinder headdan tentunya akan menimbulkan pekerjaan baru yang lebih rumit,” katanya.

 

Untuk mengurangi permasalahan tersebut kuncinya adalah di proses pengencangan dengan pengaturan torsi yang sesuai.

“Busi memiliki ukuran hexagon yang berbeda sehingga nilai torsi yang dibutuhkan juga berbeda. Cara yang paling mudah adalah menggunakan kunci torsi yang disesuaikan nilainya sebelum mulai proses pengencangan,” bebernya.

Jika tidak memiliki kunci torsi yang sesuai, katanya, maka pengaturan sudut putar menjadi poin utama dalam melakukan proses pengencangan pada busi. Putaran 180 derajat sampai dengan 240 derajat sudah cukup untuk mengencangkan busi agar tidak lepas.

“Petunjuk pengencangan semua tipe busi dapat dilihat pada bagian belakang bungkus busi yang disesuaikan dengan tipenya masing-masing. Ini bertujuan untuk lebih memastikan bahwa setiap tipe busi dibedakan berdasarkan bentuk diameternya,” pungkasnya.

Sumber: Otosia.com

 
Lanjutkan Membaca ↓