Toyota Indonesia Pilih Dongkrak Ekspor Ketimbang Perbanyak Impor Camry

Oleh Arief Aszhari pada 04 Mar 2019, 12:02 WIB
Diperbarui 04 Mar 2019, 13:15 WIB
Tampilan Keren All New Toyota Camry (Arief A/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu sedan mewah PT Toyota Astra Motor (TAM), all new Camry mendapatkan respon yang positif sejak diluncurkan beberapa waktu lalu. Terbukti, setiap bulan, mobil yang banyak digunakan oleh pejabat Tanah Air sudah mendapatkan pesanan sekitar 400 unit selama dua bulan.

Dengan jumlah pesanan tersebut, calon konsumen harus menunggu hingga 3 bulan, dan raksasa asal Jepang ini bakal memutar otak untuk bagaimana mendatangkan all new Toyota Camry untuk memenuhi kebutuhan pasar.

"Kalau bicara kuota, kita bilang ke pemerintah bukan masalah kuota, tapi bicara ekspor kita mau naikan terlebih dahulu," jelas Anton Jimmi, Direktur Pemasaran TAM, saat berbincang dengan wartawan di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Lanjut Anton, dengan membicarakan rencana ekspor terlebih dahulu, agar neraca perdagangan tetap seimbang, dan impor Toyota tidak lebih besar dibanding ekspor.

"Jadi, tidak mungkin Toyota langsung minta impor, kita bica perluasan ekspor dahulu. Kemarin kita sudah bicara dengan PT Astra Daihatsu Motor (ADM) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), rasanya kita akan ekspor terlebih dahulu, kira-kira tahun ini targetnya 2.000 unit, dan menambah 3 negara tujuan ekspor," tegasnya.

Setelah itu, baru berbicara terkait impor Toyota Camry, karena memang banyak yang menunggu.

2 of 3

Selanjutnya

Sementara itu, jika dilihat dari konsumen yang melakukan pesanan Toyota Camry, memang lebih banyak dari pengguna lama yang mengganti unitnya, atau pengguna merek lain di kelas yang sama, dan juga pemilik yang naik kelas (Corolla ke Camry).

"Tapi yang menarik Camry itu kebanyakan perusahaan dan government, itu lebih dari 60 persen. Dari tiga mobil, dua dari pemerintahan," pungkasnya.

3 of 3

Saksikan Juga Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓