Otopet Listrik Telan Korban Jiwa Pertama

Oleh Amal Abdurachman pada 03 Des 2018, 16:06 WIB
Diperbarui 03 Des 2018, 16:06 WIB
Xiaomi electric scooter
Perbesar
Smart electric scooter dari Xiaomi (xiaomi)

Liputan6.com, Barcelona - Semakin pesatnya perkembangan teknologi berdampak terhadap beragam ala transportasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Misalkan saja otopet listrik yang disemati oleh motor elektrik, sehingga bisa digunakan sebagai alat transportasi untuk orang dewasa. 

Berkembangnya jenis alat transportasi tersebut juga menimbulkan masalah baru. Bahkan otopet listrik juga sudah menelan korban jiwa pertamanya. Dilansir El Pais, wanita berusia 90 tahun asal Barcelona tewas akibat tertabrak oleh otopet listrik yang melaju 30 kpj.

Wanita tua tersebut tertabrak saat berjalan di trotoar kawasan rambla del Carme de Esplugues. Kepalanya membentur trotoar dan berada di kondisi kritis saat dilarikan ke rumah sakit. Beberapa hari kemudian, korban mengembuskan napas terakhirnya.

Otopet listrik tersebut digunakan oleh dua pria. Sang pengemudi diduga sedang menggunakan smartphone untuk melihat sistem navigasi. Artinya, sang pengemudi tidak memperhatikan jalan saat berkendara. 

Otopet listrik sendiri sudah cukup lama digunakan di Spanyol, kebedaraannya menjadi permasalahan tersendiri. Karena secara hukum, otopet listrik tidak dianggap sebagai kendaraan, sehingga hanya bisa digunakan di area sepeda, pejalan kaki, dan bukan untuk jalan raya.

Dilansir Autoevolution, beberapa kota melarang penggunaannya karena dianggap terlalu kencang dan berbahaya untuk area trotoar yang sudah padat. Madrid sudah melarang penggunaannya. Barcelona dan Valencia melarang perusahaan rental otopet listrik beroperasi.

2 dari 3 halaman

Begini Rasanya Bekerja di Jakarta Tanpa Mengendarai Mobil atau Motor

Bekerja di Jakarta tanpa mengandalkan mobil dan motor mungkin mustahil bagi sebagian orang. Meskipun tidak memiliki kendaraan tersebut, pasti saja akan membutuhkan layanan transportasi online berbasis aplikasi yang ujung-ujungnya menggunakan mobil atau motor.

Kendaraan konvensional tersebut dinilai menyumbang polusi udara, suara, dan juga kemacetan. Oleh karena itu, kendaraan listrik dinilai menjadi solusi untuk permasalahan polusi, sedangkan transportasi umum bisa mengurangi jumlah populasi kendaraan pribadi di jalan raya. Intinya adalah, bagaimana bisa menggerakkan manusia dari satu tempat ke tempat lain seefisien mungkin.

 

Salah satu konsep yang menggabungkan penggunaan transportasi umum dan kendaraaan pribadi adalah personal transporter, personal mobility vehicle, atau personal mobility device yang dilengkapi motor elektrik. Meskipun memiliki nama berbeda-beda, maknanya tetap sama.

Toyota masih mengembangkan Toyota i-Road yang dinilai cukup compact dan lincah. Honda pun memiliki Uni-Cub yang masih dalam tahap pengembangan. Semuanya diklaim sebagai alat transportasi masa depan. Namun, tentu masyarakat belum bisa mencicipi teknologi tersebut saat ini.

Meskipun demikian, saat ini sudah tersedia personal mobility vehicle yang sudah dijual bebas, bahkan digunakan secara umum. Tengok saja sepeda listrik lipat, electric scooter (autopedlistrik), atau kendaraan satu roda dari segway.

Kali ini Liputan6.com akan mencoba menggunakan personal mobility vehicle untuk commuting di Jakarta, tentu saja dipadu dengan transportasi umum seperti KRL, kereta api, atau pun travel untuk bepergian keluar kota.

Baca selengkapnya di sini.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓