Mengintip Perbedaan Sistem Hybrid Suzuki Swift dengan Ertiga Diesel

Oleh Liputan6.com pada 18 Agu 2018, 10:08 WIB
Diperbarui 17 Des 2018, 13:11 WIB
Suzuki Swift Hybrid

Liputan6.com, Jakarta - Suzuki mulai memperkenalkan teknologi hybrid lebih dalam. Memajang all new Swift Hybrid, ialah cara yang dilakukan sekarang. Selaras dengan tema Beyond Mobility di GIIAS 2018, Suzuki ingin menunjukkan teknologi ramah lingkungan milik mereka, tak kalah canggih dari merek Jepang lain.

Konsumen tanah air sudah bisa merasakan manfaat dari teknologi Hybrid. PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) pernah menjual Ertiga diesel hybrid 2 tahun lalu. Tapi saat ini belum berlanjut seiring regenerasi Low MPV terlaris mereka. Teknologi hybrid yang dihadirkan mengacu pada Maruti Suzuki untuk pasar Indonesia. Sangat memungkinkan model lain juga ada versi hybrid-nya.

Lalu Suzuki all new Swift Hybrid tampil sebagai salah satu bintang di booth Suzuki di GIIAS 2018. Mobil ini sudah meluncur di Jepang sejak tahun lalu. Jangan samakan teknologi hybrid yang ada di Swift dengan Ertiga diesel. Sebab ada kesamaan namun besar bedanya.

Apa itu Strong Hybrid?

Swift ditegaskan sebagai Strong Hybrid, bukan Mild Hybrid seperti Ertiga diesel. Bahasa sederhananya, hybrid murni yang terdiri dua kombinasi mesin. Mesin bensin dibantu motor listrik sebagai pemasok tambahan tenaga dan energi listrik. Jenisnya masih berupa hybrid paralel konvensional. Maksudnya, mesin dan motor bekerja tandem menghimpun tenaga untuk menggerakkan roda. Baterai menjadi bagian dalam rangkaian yang mengumpulkan energi dari hasil pengereman atau kata bekennya regenerative braking.

Bedanya dengan Mild Hybrid?

Jelas berbeda, tapi kami bahas persamaannya dulu. Baik mild dan strong hybrid, sama-sama ditopang mesin internal combustion sebagai penggerak utama. Keduanya dilengkapi ISG (Integrated Starter Generator) dan aki khusus untuk menyimpan daya listrik sebagai sumber energi sistem auto start/stop. Sampai di situ merupakan mekanisme milik mild hybrid, seperti metode di Suzuki Ertiga diesel. Makanya tidak bisa dianggap hybrid murni sebab tidak ada mesin kedua. Peran utama ada di ISG, yang bertugas menyimpan dan menyuplai energi listrik untuk mengurangi beban kerja mesin.

Sementara pada strong hybrid, ada tambahan motor listrik bernama MGU (Motor Generator Unit) berikut baterai. Fungsinya sebagai motor penggerak membantu kinerja mesin dan memungkinkan mobil berjalan pada mode listrik saja. Nah, fungsi baterai berperan menyimpan daya listrik dihasilkan MGU dan menyuplai listrik ke MGU saat berkendara di mode listrik.

 

* Update Terkini Asian Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru dari Arena Pesta Olahraga Terbesar Asia di Sini.

2 of 3

Cara Kerja dan Keunikannya?

Ketika berjalan normal dan pedal gas diinjak untuk menambah kecepatan, MGU bekerja membantu mesin. MGU menghasilkan tenaga 10 kW dan torsi 30 Nm. Jika ditotal dengan output mesin Dualjet 1,2 -liter, menjadi 89,7 Tk dan torsi 118 Nm. Pada saat mengerem atau mengurangi kecepatan, motor akan menghasilkan listrik yang digunakan untuk mengisi (charge) baterai Lithium-ion.

Uniknya, strong hybrid Suzuki memungkinkan mobil berjalan dalam mode listrik saja. Sistem mampu mendeteksi kondisi saat mobil sedang berjalan konstan di lalu lintas lengang, mematikan mesin bensin dan bergantung pada energi listrik saja. Tapi hanya dalam jarak yang singkat dan di bawah kecepatan 80 km/jam. Pengaruh terhadap konsumsi bahan bakar cukup besar. Klaim konsumsi BBM di Jepang mencapai 32 km/jam.

Keunikan lain dari Swift Hybrid yang dipajang terletak pada transmisi. Mobil ini memakai Automated-manual Transmission (AMT) atau dikenal juga Auto Gear Shift (AGS). Sama seperti transmisi AGS di Ignis maupun Karimun Wagon R dengan jumlah 5 rasio gigi. Belum dapat diketahui pasti mengapa Suzuki memakai jenis transmisi ini bukannya CVT, matik konvensional atau manual biasa. Karena semua itu hasil pengembangan khusus pasar Jepang.

Sumber: Oto.com

3 of 3

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓