KIA Pilih Tahan Harga, Ini Alasannya

Oleh Herdi Muhardi pada 19 Jul 2018, 09:07 WIB
Diperbarui 21 Jul 2018, 08:13 WIB
Booth KIA di IIMS 2017

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah pabrikan otomotif secara terang-terangan mengumumkan kenaikan harga produk-produknya. Bahkan beberapa merek otomotif yang ada di Indonesia sudah menaikan harga lebih dari dua kali dengan alasan naiknya nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah.

Kendati begitu, hal itu rupanya tidak membuat PT KIA Mobil Indonesia (KMI) latah. Menurut GM Business Development PT KMI, Harry Yanto, sudah setahun lamanya, KIA belum naikan harga mobilnya meski seluruh produknya di datangkan langsung dari Korea Selatan.

“Kita bukan market leader, kalau market leader gampang saat dolar naik, ikut dinaikin juga harga mobilnya,” ucap Harry saat ditemui di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara, Rabu (18/7/2018).

“Jadi kita melihat situasi pasar, kompetisinya dimana? Justru kalau market leader naikin harga dan kita enggak naikin, maka orang (konsumen) lari ke kita. Nah kita harus cari peluang seperti itu,” tambah Harry.

Harry juga menyatakan, di semester pertama 2018, KIA belum menaikan harga. Padahal, kurs dollar beberapa kali mengalami kenaikan.

“Kalau kita naikin (harga), customer enggak sanggup beli, apa yang terjadi? Enggak laku juga. Tapi penyesuaian pajak BBN ada. Bisa dicek harga Rio tahun lalu berapa, dan sekarang berapa, masih sama,” jelas Harry.

 

2 dari 2 halaman

Mobil Cina Menggeliat di Tanah Air, Bagaimana Nasib KIA?

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, wholesale sales (penjualan pabrik ke delaer) pabrikan mobil Korea Selatan, KIA, selama Januari-Juni 2018 hanya tercatat 122 unit.

Parahnya, selama April-Juni 2018, KIA bahkan tak melakukan proses distribusi alias nol. Sebaliknya, merek mobil Cina di semester pertama 2018 ini cukup menggeliat dalam hal penjualan.

Itu terlihat dari catatan wholesale antara DFSK dan Wuling yang masing-masing menjual 394 unit dan 8.120 unit.

Tentu saja menurunnya penjualan KIA ini menjadi sebuah pertanyaan, apakah hal tersebut dikarenakan munculnya merek-merek mobil asal negeri Tirai Bambu.

Menanggapi hal tersebut, General Manager Marketing PT KMI Ridjal Mulyadi angkat bicara. Dia tak ambil pusing atau mempermasalahkan kehadiran merek mobil Cina.

“Jadi kehadiran mobil Cina itu sebenarnya menambah pilihan untuk customer,” singkat Ridjal saat ditemui di kawasan Pantai Mutiara, Jakarta Utara, Rabu (18/7/2018).

Ridjal sendiri menyadarai, bahwa produknya tergerus. Akan tetapi produk yang dipasarkan tidak berbenturan dengan merek mobil Cina.

“Memang efek secara keseluruhan ada, contoh main di range harga pasti ketemu untuk model KIA yang lain (bukan Grand Sedona), namun fitur dan kualitas berbeda,” terangnya.

Lebih lanjut Ridjal mengaku, KIA tak bisa menyesuaikan soal harga dan kebutuhan konsumen di Tanah Air. Sebaliknya, produk KIA diciptakan untuk produk global.

“Contoh standar servis dan segala macam, kita enggak bisa turunin jadi seperti itu. Kedua kita anggapnya positif (hadirnya mobil China) karena market jadi tumbuh besar, dengan harapan kita tambah besar,” jelasnya.

Lanjutkan Membaca ↓