Tanpa China, Pasar Toyota Indonesia Terbesar di Asia

Oleh Herdi Muhardi pada 08 Jun 2017, 13:31 WIB
Diperbarui 08 Jun 2017, 13:31 WIB
20160126-Produksi-Kijang-Inova-serta-Fortuner-Jakarta-IA
Perbesar
Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil di pabrik Karawang 1 PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Jawa Barat, Selasa (26/1). Pabrik ini memproduksi Kijang Innova serta Fortuner mencapai 130.000 unit pertahun. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Liputan6.com, Jakarta - Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) akan menjadikan 2017, tahun yang sangat penting untuk menancapkan kuku bisnisnya di Tanah Air.

Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono mengatakan, keputusan tahun ini untuk memutuskan keberlangsungan bisnis Toyota 4-5 tahun ke depan.

Hal ini diakui Warih dengan sales volume Toyota Indonesia di 2016 yang tembus sebanyak 380 ribu unit.

“Indonesia itu kan kalau tahun lalu jualannya sampai 380 ribu, itu nomor empat di dunia. Kalau kita hilangin China, Jepang, Amerika, kita nomor satu di dunia. Jadi kalau di Asia tanpa China kita nomor satu di Asia market-nya,” ungkap Warih saat ditemui Liputan6 beberapa waktu lalu.

Untuk mencapai prestasi tersebut Toyota Indonesia berniat mengembangkan Fuel efficiency vehicle atau kendaraan hemat bahan bakar dan menyematkan teknologi canggih untuk pasar domestik terlebih dahulu.

Hanya saja, hal tersebut memiliki tantangan, yaitu mobil ramah lingkungan dengan teknologi tinggi dianggap sangat mahal.

Karena itu, agar dapat terealisasi dibutuhkan beberapa faktor mulai dari insentif pajak dan regulasi, sehingga konsumen di Tanah Air dapat menerima produk yang baik.

“Jadi market-nya ada, kita harus ikut mengisi market itu. (Caranya bagaimana?) Ya industri, tanpa industri negeri ini akan penuh dengan CBU, that's all,” tuturnya.

Adapun untuk pasar ekspor, Toyota Indonesia mengalami pertumbuhan sepanjang Januari-Maret 2017 dengan angka 49.300 unit, naik dari periode yang sama tahun lalu yaitu sebesar 34.700 unit.

"Jadi tetap targetnya (ekspor) kita naik 10 persen (sepanjang 2017) dibanding tahun lalu. Sekarang tujuan ekspor Asia Pasific yang paling tinggi, Thailand, Filipina, Vietnam. Untuk Timur Tengah stagnan 30 persen," ujarnya.

Tag Terkait