Mobil Diesel Tetap Jaya di Eropa, Tidak di Amerika. Alasannya?

Oleh Gesit Prayogi pada 05 Jan 2016, 18:44 WIB
Diperbarui 05 Jan 2016, 18:44 WIB
Era Mobil Diesel Akan Runtuh, Apa Penyebabnya?
Perbesar
"Cepat atau lambat, mobil penumpang bermesin Diesel akan lenyap dari pasar tersebut," kata Elmar Degenhart.

Liputan6.com, California - Kasus manipulasi standar emisi yang dilakukan Volkswagen diprediksi akan mempengaruhi pasar mobil Diesel untuk kawasan Amerika Utara, Jepang, dan China.

"Cepat atau lambat, mobil penumpang bermesin Diesel akan lenyap dari pasar tersebut," kata Elmar Degenhart, chief executive dari perusahaan pemasok industri otomotif, Continental.

Melalui pernyataannya di harian Boersen-Zeitung, yang dilansir dari Reuters, Selasa (5/1/2016), prediksi Degenhart ini didasari dari pasar mobil Diesel yang hanya berkisar 1-3 persen pada pasar yang disebutkan itu. Bandingkan dengan Eropa yang bisa mencapai 53 persen.

Sementara untuk pasar Eropa, bos Continental itu menyakini bahwa Dieselgate tak akan berpengaruh besar.

Sebagaimana diketahui, Volkswagen, produsen nomor satu Eropa, mempromosikan bahwa Diesel merupakan mesin yang bersih dan efisien. Kampanye ini gencar dilancarkan di Amerika Serikat (AS) untuk mengambil alih dominasi mesin bensin.

Praktis dengan adanya Dieselgate, visi Volkswagen di pasar AS tentu saja terganggu. Selain ancaman itu, mereka pun harus meladeni sejumlah tuntutan hukum.

Gugatan perdata US$ 90 miliar

Departemen Kehakiman AS menerima gugatan perdata terhadap Volkswagen AG karena melanggar Clean Air Act dengan memasang perangkat ilegal untuk memanipulasi sistem kontrol emisi pada 600 ribu kendaraan.

Tak tanggung-tanggung, perusahaan pemilik merek Audi dan Porsche itu dituntut membayar denda US$ 90 miliar -- atau US$ 37.500 per kendaraan.

"Kami meminta pertanggungjawaban dari Volkswagen karena telah melanggar aturan emisi udara di Amerika Serikat," tegas Assistant Attorney General John Cruden Kepala Departemen Lingkunagn dan Divisi Sumberdaya Alam.