Gencarkan Edukasi Gizi Lewat Mendongeng demi Jangkau Generasi Muda

Oleh Liputan6.com pada 16 Mei 2022, 21:18 WIB
Diperbarui 16 Mei 2022, 21:18 WIB
Ilustrasi mendongeng.
Perbesar
Ilustrasi mendongeng.

Liputan6.com, Jakarta Banyak media pembelajaran yang bisa diadopsi. Salah satunya melalui mendongeng atau storytelling. Metode ini berkembang menjadi salah satu kompetensi yang perlu dikuasai anak di era digital.

Hal itu disampaikan founder Kampung Dongeng Indonesia (KADO) Awam Prakoso dalam acara pengumuman pemenang lomba Story Telling Edukasi Gizi, pada Sabtu (14/5/2022).

Kegiatan yang digagas bersama Yayasan Abhipraya Insan Cendekian Indonesia (YAICI) focus pada pelibatan generasi muda untuk dapat lebih peduli lagi pada kecukupan asupan gizi.

Metode storytelling merupakan salah satu bentuk penyampaian pesan-pesan yang secara tidak langsung dengat dengan keseharian anak muda, bahkan sejak usia anak-anak.

“Melalui kegiatan ini, anak akan terlatih untuk berkomunikasi, berani tampil di depan banyak orang dan juga kreatifitasnya akan terasah. Disamping itu anak juga akan terbiasa untuk belajar, menggali lebih banyak informasi, seperti dengan topik edukasi gizi seperti ini, akan lebih melekat baik untuk si anak maupun audiensnya,” jelas Awam Prakoso.

Lomba storytelling dengan topik edukasi gizi dan susu yang baik untuk anak telah dimulai sejak Maret 2022.

Selama kurun waktu lebih kurang 1 bulan penyelenggaraan, telah terkumpul sekitar 200 karya berupa video edukasi yang dipublikasikan di sosial media, baik melalui platform Instagram maupun youtube.

Lomba video edukasi gizi tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan usia, mulai dari usia dini, SD hingga dewasa.

Saat ini, telah terpilih 20 karya terbaik yang selanjutnya akan menjadi materi yang dapat digunakan sebagai materi sosialiasasi dan edukasi gizi.

 

 


Beri Edukasi

Mendongeng
Perbesar
Acara pengumuman pemenang lomba Story Telling Edukasi Gizi, pada Sabtu (14/5/2022).

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasinya terhadap KADO dan juga seluruh peserta.

“Selama ini topik gizi itu identik dengan orang tua. Tapi melalui metode storytelling ini, kita dapat menjangkau lebih banyak lagi kalangan. Bukan hanya orang tua, tapi edukasi ini langsung ke anak-anak dan para remaja, yang memang sebenarnya sasaran utama dari edukasi ini. Kita berharap selanjutnya, para generasi mud aini dapat menjadi agent of change untuk kita dapat memutus rantai gizi buruk di Indonesia,” jelas Arif.

Sebelumnya, YAICI dan KADO juga telah melakukan rangkaian kegiatan literasi gizi. Sebagaimana diketahui, Indonesia masih darurat literasi.

Hasil Programme for International Students Assessment (PISA) tahun 2018, menunjukkan bahwa 70 persen siswa di Indonesia memiliki kemampuan baca rendah (di bawah Level 2 dalam skala PISA).

Artinya, mereka bahkan tidak mampu sekadar menemukan gagasan utama maupun informasi penting di dalam suatu teks pendek.

Hal ini diperparah dengan angka minat baca di Indonesia yang juga rendah. Pada tahun 2018, survei dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa persentase penduduk di atas usia 10 tahun yang membaca surat kabar atau majalah hanya 14,92 persen.

Angka ini lebih rendah dari persentase 15 tahun sebelumnya (23,70 persen). Padahal, selama hampir 15 tahun, pemerintah telah menerbitkan berbagai kebijakan nasional untuk mengatasi krisis literasi ini.

Buruknya budaya literasi di Indonesia ini yang menjadi pemicu persoalan gizi buruk dan stunting yang tak kunjung usai.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya