Studi Temukan Perubahan Gaya Hidup Dapat Kurangi Risiko Alzheimer

Oleh Liputan6.com pada 27 Sep 2021, 18:14 WIB
Diperbarui 27 Sep 2021, 18:14 WIB
Penyakit Alzheimer
Perbesar
Penyakit Alzheimer (Foto: Unsplash/ Danie Franco)

Liputan6.com, Jakarta Studi menemukan adanya korelasi antara perubahan gaya hidup dan penyakit Alzheimer pada seseorang yang dapat meningkatkan memori dan keterampilan berpikir. 

Kurun waktu yang dapat terjadi selama proses perubahan gaya hidup adalah 18 bulan. Menurut ahli saraf dan pendiri klinik pencegahan Alzheimer New York Richard Isaacson, penelitian yang dilakukan membuahkan hasil peningkatan kognitif.

“Ini adalah studi pertama dalam pengaturan dunia nyata yang menunjukkan adanya peningkatan fungsi kognitif dan mengurangi risiko Alzheimer dan kardiovaskular,” tambah Isaacson.

Kemudian, berdasarkan jurnal Alzheimer’s and Dementia: The Journal of the Alzheimer’s Association menyatakan bahwa penelitian yang dilakukan lebih butuh banyak uji klinis kembali. 

Rudy Tanzi sebagai profesor neurologi Harvard menegaskan penelitian yang dilakukan butuh waktu untuk melakukan uji coba, tetapi sebenarnya ada banyak yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan otak dengan peralihan gaya hidup.

“Sulit untuk meyakinkan publik untuk melakukan hal tersebut tanpa adanya uji klinis untuk memberi tahu bahwa tidur, diet, olahraga, dan meditasi itu penting,” tambah Rudy. Penelitian ini sengaja dirancang dan dilakukan guna memperkaya ilmu di masa depan.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kurangi Risiko

Ilustrasi Otak. Foto: Unsplash/ Robina Weermeijer
Perbesar
Ilustrasi Otak. Foto: Unsplash/ Robina Weermeijer

Munculnya jenis penyakit ini muncul sekitar 20 hingga 30 tahun sebelumnya. Diprediksi ada 47 juta orang Amerika saat ini hidup dengan mengidap penyakit tersebut karena tidak ada obat membantu yang dapat menyembuhkan.

Beberapa kemungkinan yang terjadi adanya tanda-tanda halus kehilangan kognitif. Bukti dari perkembangan gaya hidup, seperti diet, olahraga, dan pelatihan otak dapat memperlambat penurunan mental bahkan mengurangi penurunan demensia.

Namun, pertanyaan yang menjadi mendasar adalah apakah satu ukuran dapat cocok untuk semua pasien? Apakah setiap orang memerlukan tindakan unik yang disesuaikan dengan faktor risiko?

Sejak 2013, Klinik Pencegahan Alzheimer yang menerima klien dengan penyakit sejenis untuk uji coba menjalankan serangkaian tes fisik dan mental.

Misalnya, pemindaian MRI untuk memeriksa tanda-tanda awal penumpukan plak pada jaringan tubuh. Masalah-masalah umum yang wajar dialami adalah genetika, riwayat keluarga, pola nutrisi, kebiasaan olahraga, tingkat stres, dan pola tidur.

“Studi kami dirancang untuk melihat efek intervensi gaya hidup pada fungsi kognitif. Dengan mempertanyakan ‘Apakah fungsi kognitif turun?’, ‘Apakah tetap sama atau mungkinkah membaik?’,” jelas Isaacson.

Tim peneliti bersama Isaacson mendaftarkan 154 pasien yang di antaranya berusia 26 hingga 86 tahun dengan mengidap penyakit Alzheimer. Sebagian besar belum mengalami kehilangan memori, tetapi menunjukkan adanya penurunan kognitif.

Kemudian, 35 pasien didiagnosis dengan gangguan kognitif ringan (MCI). Asosiasi Alzheimer ini mendefinisikan MCI sebagai perubahan kognitif yang cukup serius sehingga menjadi prioritas utama untuk pasien pengidap Alzheimer. Namun, untungnya tidak memengaruhi kemampuan individu untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

“Aktivitas fisik dan nutrisi sejauh ini adalah dua hal yang terpenting, tetapi juga coba dipersonalisasi untuk setiap individu,” papar Isaacson.

Dalam aktivitas fisik, misalnya program mungkin merekomendasikan latihan interval aerobik untuk satu orang, sedangkan menggunakan bola keseimbangan atau berlatih angkat beban menjadi salah satu alternatif yang direkomendasikan.

“Sementara itu, dalam diet dapat mengonsumsi kafein hanya sebelum jam 2 siang untuk menjaga tidur malam. Lalu, tidak ada karbohidrat selama 12 jam atau lebih dalam sehari,” jelas Isaacson saat memaparkan batasan makanan yang harus dilakukan.

Program diet yang disebut puasa intermiten berfokus pada asupan susu, mineral, vitamin, kebersihan dalam tidur, pendidikan, mendengarkan musik, meditasi, belajar fokus, dan sebagainya.

 

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Studi yang Diharapkan

Ilustrasi Penanganan Pecah Pembuluh Darah Otak Tanpa Pembedahan/dok. Unsplash Robina
Perbesar
Ilustrasi Penanganan Pecah Pembuluh Darah Otak Tanpa Pembedahan/dok. Unsplash Robina

Hal menarik yang baru-baru ini temukan Isaacson adalah orang dengan gangguan kognitif ringan didiagnosis memiliki 60 persen dengan rata-rata 12 dari 21 perubahan perilaku, dan memori serta kemampuan berpikir yang lebih baik setelah 18 bulan.

Mereka dengan gejala MCI melakukan kurang dari 60 persen perilaku yang telah dipersonalisasi dan ditetapkan justru membuahkan peningkatan penyakit Alzheimer yang terus menerus menurun.

Sementara itu, pasien kedua akibat genetik, tidak ada tanda-tanda klinis demensia saat ini. Kelompok tersebut disebut sebagai kelompok pencegahan, mampu mendapatkan dorongan kognitif yang signifikan.

“Mungkin kami tidak memiliki jawaban yang sempurna, tetapi berikut adalah 21 hal berbeda yang dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan risiko individu untuk melindungi kesehatan otak Anda.'"

Reporter: Caroline Saskia

 

 

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya