Akademisi dan Pegiat Kemanusiaan Ajak Masyarakat Saling Bantu saat Pandemi Belum Terkendali

Oleh Liputan6.com pada 15 Jul 2021, 19:47 WIB
Diperbarui 15 Jul 2021, 21:43 WIB
PMI Gelar Vaksinasi untuk Pelajar dan Masyarakat Umum
Perbesar
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin covid-19 untuk penerima vaksinasi di Gudang Darurat Nasional Palang Merah Indonesia, Jakarta, Kamis (15/7/2021). Vaksinasi yang menargetkan seribu peserta per hari diselenggarakan hingga 17 Juli 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Sebuah tindakan kemanusiaan bersama dapat merupakan solusi ampuh dalam menyelesaikan pandemi Covid19 saat ini.

Itu sebabnya akademisi dari sejumlah Perguruan Tinggi dari dalam dan luar negeri bersama para tokoh pegiat kemanusiaan satu suara mengajak masyarakat untuk bantu sesama. Hal ini disampaikan saat diskusi daring tentang ajakan Solidaritas Kemanusiaan yang berlangsung pada Rabu, 14 Juli 2021.

"Sebenarnya masyarakat mau berkorban bersama-sama saling sharing the pain, yang diperlukan saat ini adalah keterbukaan dan kesediaan pemerintah untuk menjelaskan keadaan sebenarnya," ujar Tokoh Kemanusiaan, Sudirman Said.

Sekjen Palang Merah Indonesia ini mengungkapkan ada kecendrungan ketaatan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah menurun, bukan karena tidak mau taat, tetapi karena cemas, karena ketakutan dan karena tekanan kebutuhan hidup.

"Yang kita takutkan ketika keadaan begitu buruk, pemerintah menghadapi defisit kepercayaan. Sehingga tindakan-tindakan yang sifatnya terobosan tidak lagi di terima sebagai tindakan yang efektif. Oleh sebab itu mari kita bantu pemerintah, kita bantu negeri ini, bersama-sama," ajak Sudirman Said.

Peneliti ISEAS Singapura dan Universitas Manchester Inggris, Yanuar Nugroho yang hadir pada diskusi ini mengharapkan pemerintah perlu mengkaji lebih dalam dan jangan buru-buru mengakhiri PPKM Darurat.

"Saya mengharapkan pemerintah untuk tidak terburu-buru mengakhiri PPKM Darurat apalagi bila hanya dengan asumsi kasus segera turun," kata Yanuar.

Yanuar juga menambahkan, pemerintah perlu mempercepat penyelesaian aturan untuk membantu sektor informal.

Kemudian mempertajam strategi vaksinasi dengan dua fokus, mengamankan suplai dan meningkatkan kecepatan vaksin. Mempermudah akses pada vaksinasi, dan memastikan vaksin di daerah 3T.

"Pemerintah juga perlu memiliki program perlindungan sosial harus adaptif, dan adanya tata Kelola data. Dan yang terpenting adalah strategi komunikasi kebijakan. Adanya pesan tunggal agar kepercayaan terhadap pemerintah meningkat," tambah Yanuar.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Contoh di Negara Lain

FOTO: Penyintas COVID-19 di Bekasi Donorkan Plasma Konvalesen
Perbesar
Penyintas COVID-19 mendonorkan plasma konvalesennya di PMI Bekasi, Jawa Barat, Kamis (11/2/2021). Pemerintah setempat membuka layanan donasi plasma konvalesen untuk membantu kesembuhan pasien yang masih terpapar COVID-19. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Akademisi dari Hilversum, Belanda, Eddy Wiria juga mengajak seluruh elemen Masyarakat untuk saling bantu sesama dalam menghadapi pandemi Covid19.

"Apa yang di lakukan di Belanda, adalah adanya kerja sama dan solidaritas dari pemerintah, instansi dan masyarakat. Kita perlu bekerja sama demi kepentingan bersama," jelas Eddy.

"Di Belanda saat ini kapasitas tes di pesatkan, saat ada gejala batuk pilek langsung tes. Tempat, tempat tes di seluruh Belanda. Vaksin di percepat dan gratis," tambah Eddy saat menggambarkan kondisi di Belanda saat ini.

Eddy juga mengatakan bahwa aturan cuci tangan dan social distancing serta vaksinasi membuat banyak penurunan kasus covid 19, data-data tersebut semua ditunjukan kepada masyarakat.

"Standar protokol kesehatan selalu diikuti dan semua mengikuti dengan hati-hati sesuai dengan protokol pemerintah," jelasnya.

Diskusi Solidaritas Kemanusiaan ini juga dihadiri oleh Akademisi Universitas Gadjah Mada, Profesor Muhamad Baiquni, Rektor Universitas Syah Kuala, Profesor Samsul Rizal, Akademisi Universitas Sam Ratulangi, Profesor Winda Mercedes Mingkid, Profesor Hera Oktadiana di Australia, Kandidat Doktor Universitas Taiwan, Andi Azhar, Akademisi Universitas Paramadina, Hendri Satrio, Pegiat Sosial Kemanusiaan Dadang Juliantara, Raharja Waluya Jati, Untoro Hariadi, Agung Hendarto dan Akademisi Universitas Negeri Yogyakarta, Dwi Harsono sebagai Moderator.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya