Dubes RI di Malaysia: TKI Ilegal Rentan dan Gampang Di-bully

Oleh Elin Yunita Kristanti pada 19 Des 2013, 06:01 WIB
Diperbarui 19 Des 2013, 06:01 WIB
dubes-ri-malaysi-131218c.jpg
Perbesar

Ada hampir 3 juta warga negara Indonesia (WNI) berada di Malaysia. Banyak di antaranya datang tanpa dokumen resmi, untuk mengadu nasib di Negeri Jiran.

Tiap tahunnya, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur pun disibukkan dengan ribuan kasus tenaga kerja Indonesia: mereka yang berbuat pidana atau sebaliknya jadi korban -- ada yang tak dibayar gajinya, jadi obyek kekerasan fisik, trafficking, KDRT, juga kekerasan seksual.

Yang terakhir menimpa seorang WNI berusia 29 tahun yang diperkosa seorang oknum Polis Diraja Malaysia.

Liputan6.com mewawancarai secara khusus Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Marsekal Purnawirawan Herman Prayitno di KBRI Kuala Lumpur tentang perkembangan kasus tersebut, juga tantangan apa yang ia dihadapi ketika memimpin Kedubes paling repot di negeri jiran dan salah satu korps diplomatik RI yang paling sibuk di seluruh dunia.

Ada kasus baru yang terjadi di mana seorang WNI diperkosa oleh oknum anggota Polis Diraja Malaysia. Apa yang sudah dilakukan KBRI?

Sejak kita tahu dari surat kabar Metro, saya langsung minta tim Satgas KBRI Kuala Lumpur untuk segera melakukan kroscek dan klarifikasi pada Kepolisian di KL. Dan itu memang betul bahwa ada seorang WNI yang diperkosa oleh oknum polisi. Oknum tersebut telah ditangkap, disidik, diberkas, dan kemudian akan dikirim ke mahkamah.

Lalu, bagaimana dengan korban?  

Tim telah menghubungi pihak korban lewat ponsel.  Korban menyampaikan, ia sudah lapor pada polisi dan sudah jelaskan semua. Dan bertanya,  ‘untuk apa KBRI bertemu saya lagi?’ Kita jelaskan, kita ingin membantu dan memberi perlindungan.  Dia bilang oke dan siap menerima perlindungan. Tim Satgas lalu menuju tempat tinggalnya. Ketika sampai di sana, korban dan suaminya sudah tidak ada di tempat. Sampai sekarang kami belum ketemu dan melakukan kontak kembali.

Prosedur KBRI, jika ada WNI bermasalah, apa saja yang dibantu?

Jika WNI dianggap bersalah, kita siapkan lawyer, sehingga hak-hak dia terpenuhi. Kalau toh dia di Malaysia tidak ada penampungan atau tidak mampu, kita siapkan shelter untuk menampung sementara.

Bagaimana pendampingan untuk sisi korban?

Kita sediakan lawyer. Lawyer kita akan rajin menayakan pada polisi sampai di mana kasus ini, juga terkait urusan di mahkamah. Kita ingin, jika warga kita jadi korban, pelaku harus diberi hukuman yang setimpal.

Ada pendampingan psikologis?

Kami punya tim konsuler, diplomat muda-muda juga ada yang mendampingi korban. Kita kawal terus korban. Termasuk sisi psikologisnya.

Ini bukan kasus pertama WNI diperkosa. Apa yang bisa dilakukan agar kasus seperti ini tak terulang?

Pembelajaran dari kasus-kasus seperti itu, seperti yang selalu kita sampaikan, WNI yang ke sini harus memiliki dokumen lengkap, KTP, paspor, dan jangan sampai overstay atau ilegal. Karena kalau ilegal, rentan jadinya dan gampang di-bully.

Bagaimana respon Polis Diraja Malaysia dalam kasus pemerkosaan? Terutama jika pelakunya adalah oknum polisi.

Mereka menganggap itu aib bagi institusinya. Mereka sudah menyidik, menuntut, dan mempertanggungjawabkan perbuatan. Kepala Polisi Malaysia bahkan mengatakan sendiri, kalau ada polisi bertindak salah, pasti akan dihukum. Pihak Malaysia juga ingin polisinya baik.

Selain pemerkosaan, kasus apa lagi yang ditangani KBRI?

Ada banyak. Beberapa memprihatinkan  seperti ada yang overstay, narkoba, merampok sampai juga membunuh pegawai bank, ada yang mencuri, berkelahi, ada yang tidak bisa bekerja dengan baik – seperti memutar-mutar bayi yang diasuhnya.

Saya mengimbau kembali agar WNI menempuh cara yang benar dalam hal dokumen, mungkin prosesnya agak lambat, namun agar di sini bisa menikmati pekerjaan dan hidupnya. Tapi kalau kadung tidak legal, kan perasaan nggak tenteram. Ada rasa takut.

Patuhilah aturan demi keselamatan diri sendiri, meski KBRI akan selalu melayani dan melindungi WNI -- baik legal maupun illegal. Itu tugas kita. Tapi jangan sampai ilegal, sebab kalau illegal jadi rentan, seperti tidak dibayar berbulan-bulan, akhirnya melarikan diri. Setahun sampai 1.000 orang yang kita tampung di shelter. Kita juga menangani TKI meninggal di Malaysia yang hampir 1.000 orang per tahun -- dengan berbagai penyebab.

Dari seluruh negara bagian Malaysia, mana yang paling berat?

Semenanjung.

Tugas KBRI bukan hanya TKI, apa lagi yang dilakukan korps diplomatik di Malaysia?

Tugas utama duta besar dan staf KBRI adalah memelihara hubungan bilateral, Indonesia dan Malaysia. Mempromosikan persahabatan di bidang politik, bilateral dalam segala bidang. Ada tim-tim dari Indonesia-Malaysia yang selalu bertemu membuat MoU kerja sama. Dan puncaknya pada 19 Desember ada annual leader consultation di Jakarta, PM Najib dan Presiden SBY,  didampingi para menteri, bertemu untuk membicarakan peningkatan kerjasama bilateral.

Di bidang kebudayaan saya sudah menyelenggarakan konser 3 kali, memperkenalkan budaya dan penyanyi Indonesia di sini untuk meningkatkan hubungan people to people.

Banyak artis dan penyanyi Indonesia yang terkenal di Negeri Jiran. Ada Rossa yang dapat gelar ‘Datuk’ dari Sultan Pahang, Yuni Shara, Ruth Sahanaya, Ungu, Ahmad Dhani. Di bidang musik dan kebudayaan, kita diakui oleh Malaysia.

Tahun depan kami juga akan menggelar food festival, yang akan mengetengahkan sop buntut, sate, rawon setan. Digelar sekitar 9 September 2014.

Apakah diplomasi kebudayaan punya arti signifikan?

Biar orang yang menilai, kami hanya berupaya, setidaknya people to people contact bisa terjalin baik. Selama ini antara presiden dan PM tak ada masalah, para menteri dan dirjen juga tak ada masalah, tapi rakyat yang banyak ini yang harus ditingkatkan persaudaraannya. Apalagi sejatinya kita saudara serumpun.

Apa tantangan yang Anda hadapi dalam memimpin korps diplomatik RI yang paling sibuk di dunia?

Ke dalam, saya minta para staf disiplin. Untuk tidak menyalahgunakan kerentanan. Misalnya, ada 500 orang membuat paspor setiap hari, kadang-kadang ada dokumen tak lengkap, lalu dimanfaatkan calo -- yang tentu bekerja sama dengan oknum staf.

Saya ingin KBRI bersih. Saya sering mendengar ada TKI diperas, prinsip saya, jangan sampai staf KBRI ikut terlibat. Saya juga mengimbau staf kita menjaga diri baik-baik dan jaga stamina karena pekerjaan amat banyak.

Kita senang sekali jika ada wartawan datang dan ikut memonitor kita, mencari tahu dari TKI-TKI, bagaimana performa pelayanan KBRI. Kami juga memberikan kuesioner dan kotak pos untuk menerima pengaduan. Dan masih ada juga yang belum puas, seperti WC tidak bersih, staf dianggap tidak lemah lembut, menunggu lama dari pagi sampai sore. Tahun depan kami akan memperbaiki fasilitas agar lebih nyaman, lebih baik, dan lebih manusiawi.

Sementara, tantangan di luar, kami terus mengadakan pertemuan dengan pihak Malaysia, dengan Wisma Putra untuk melancarkan hubungan bilateral. Kemudian bergaul dengan diplomat asing lainnya. Setiap minggu ada saja pertemuan.

Apakah isu terkait Malaysia, soal klaim budaya, yang beberapa kali ramai di Tanah Air berpengaruh dengan hubungan dua negara?

Berdasarkan pengalaman, isu batik, misalnya. Dulu orang Malaysia senang memakai batik Indonesia, tapi setelah isu klaim batik ramai, mereka mengarang batiknya sendiri: Batik Malaysia. Coraknya beda. Kalau sebelumnya ketika ke Indonesia orang Malaysia membeli batik, sekarang tidak lagi.

Apa yang menjadi target KBRI Malaysia tahun depan?

Pertama,  masalah perbatasan, mudah-mudahan selesai. Isu-isu klaim kebudayaan tak ada lagi, terus TKI-TKI  sudah ada kemajuan dalam kelengkapan dokumen, dan agen-agen menjadi tertib dan tak ada kasus-kasus TKI.

Kami tetap memprioritaskan pelayanan dan perlindungan WNI -- apapun masalahnya. Agar WNI, terutama TKI merasa punya bapak di sini, punya pelindung.

Ada imbauan yang ingin disampaikan pada pihak di Indonesia?

Saya ingin agar kepala daerah benar-benar menyiapkan warganya yang ingin bekerja di luar negeri, terutama Malaysia. Jangan sampai mereka tertipu agen-agen sehingga terjadi semacam perdagangan manusia. (Ein/Yus)