Naskah Babad Diponegoro dan Nagarakretagama Diakui Unesco

Oleh Addy Hasan pada 05 Jul 2013, 15:39 WIB
Diperbarui 05 Jul 2013, 15:39 WIB
naskah-diponegoro130705b.jpg
Perbesar

Organisasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang menangani bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan budaya (Unesco), mengakui naskah Babad Diponegoro dan Nagarakretagama sebagai ingatan kolektif dunia secara internasional atau International Memory of the World (MOW).

"Ini adalah bagian dari sejarah dunia yang membanggakan Indonesia karena untuk masuk dan diterima di dunia internasional itu susah sekali," ujar Kepala Bidang Litbang Kementerian Komunikasi dan Informatika Aizirman Djusan di Jakarta, belum lama ini.

Ia menambahkan sebelumnya 2007 lalu, Indonesia juga mengajukan Nagarakretagama dalam regional MOW register yang kemudian disetujui Unesco dalam sidang tahun 2008 di Canberra, Australia.

"Pada akhir Maret 2012 dokumen ini kembali diajukan bersama naskah otobiografi Babad Diponegoro dan akhirnya diakui pada Juni ini," jelas Aizirman.

Guru besar dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Edi Sedyawati, menjelaskan Nagarakretagama adalah dokumen gubahan empu prapanca yang merupakan deskripsi kejayaan. Dan kebesaran majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk.

Dokumen kuno ini ditulis di atas daun lontar dengan huruf dan bahasa Jawa kuno, serta berisi tentang hukum, undang-undang serta tata pemerintahan yang menjadi warisan Majapahit.

"Sementara Babad Diponegoro sendiri adalah satu otobiografi dan perjalanan hidup Pangeran Diponegoro," jelas Edi.

Ia menjelaskan MOW adalah program Unesco yang bertujuan untuk menghargai dan merawat serta mengupayakan publikasi atas peninggalan berupa catatan berkenaan dengan peristiwa kesejarahan. Atau pun budaya yang dianggap penting bagi dunia.

"Di samping program MOW yang digerakkan oleh Unesco, Indonesia pun merencanakan program penghargaan Memory of the Nation," imbuh Edi.

Program tersebut merupakan satu ungkapan dokumenter yang mempunyai relevansi bagi bangsa indonesia secara keseluruhan.

"Ini masih dalam persiapan, isinya bisa rekaman bintang radio, atau pun film-film nasional awal indonesia seperti film Si Pintjang atau Krisis," tukas Edi. (Ant/Adi/Yus)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya