Ali dan 12 Anggota Keluarganya Tak Tersentuh BLSM

Oleh Hanz Jimenez Salim pada 04 Jul 2013, 15:06 WIB
Diperbarui 04 Jul 2013, 15:06 WIB
blsm-kartu-130703b.jpg
Perbesar
Di gang sempit, di depan rumah semi-permanen bertingkat dua. Seorang pria lanjut usia terlihat duduk di atas kursi plastik. Sambil ditemani rintik hujan, dia terlihat diam tanpa ada yang menemaninya mengobrol.

Pria itu bernama Ali. Dia kini berusia 84 tahun. Ali adalah salah satu warga Jalan Pondok Bandung, No 33 RT 05 RW 03, Kota Bambu Utara, Palmerah, Jakarta Barat. Dia yang tinggal bersama 12 anggota keluarganya dalam rumah berukuran 5 x 4 meter.

Di depan rumah sederhana itu, tampak beberapa baju milik anggota keluarganya yang sedang dijemur. Rumah sederhana yang hanya bertingkatkan kayu lapuk, tanpa kasur yang empuk, dan tanpa peralatan elektronik.

Ali tinggal di situ sejak 1965 dan bekerja sebagai pedagang soto mi. Namun di usia tuanya, Ali hanya menikmati sisa hidupnya. Dalam rumah itu, Ali beserta istri, Rosidah (75), terpaksa menikmati kesehariannya. Walaupun tampak tak nyaman, namun keluarga besar itu tampak sabar dan terbiasa.

Sementara itu, Rosidah hanya bekerja sebagai tukang urut di sekitar rumahnya. Pekerjaan itu dia mulai sejak 1985. Memijat anak kecil yang masuk angin adalah keahliannya. Nenek yang mempunyai 31 cucu itu, tak mematok harga jasa mengurutnya. Dia hanya mengharapkan dari keikhlasan para tetangga dan warga sekitar yang menginginkan jasanya. Penghasilannya pun tak tetap.

"Kalau ngurut tak ada tarifnya. Paling seikhlasnya saja. Kadang dapat Rp 10 ribu, kadang Rp 20 ribu. Itu juga tidak setiap hari," kata Rosidah.

Jual Gorengan

Salah satu anaknya, Ayati (43), terlihat sibuk memasak di dapur seadanya di dalam rumah sederhana itu. Sesekali Ayati menyapa sang ayah, sekadar menawarkan makan atau minum. Ayati memang tak bekerja. Untuk urusan makan, Ayati hanya mengandalkan dari hasil jualan gorengan. Sementara sang suami sudah 4 bulan bekerja di luar kota sebagai kuli bangunan.

Ayati mulai berjualan sekitar pukul 16.00 WIB. Penghasilannya hanya Rp 100 ribu per hari. Penghasilannya itu pun terbilang masih kotor, belum lagi uang sebesar itu harus dibelanjakannya kembali untuk kebutuhan membuat gorengan. "Dagang pukul 16.00 WIB, pukul 17.00 WIB alhamdulillah habis," ucap Ayati di kediamannya, Palmerah, Jakarta, Kamis (4/7/2013).

Menggunting Benang

Di seberang rumahnya, terlihat Herlinawati (35), mantu dari Ali. Wanita beranak 3 itu tak bekerja. Herlinawati beserta keluarganya juga tinggal di rumah sederhana itu bersama sang mertua. Dia terlihat duduk di lantai di depan rumahnya. Herlinawati tengah menggunting benang dari setumpuk celana jins.

Untuk mencukupi biaya hidupnya, Herlinawati hanya melakukan pekerjaan sebagai buruh 'buang benang' dari pabrik konveksi yang ada di dekat rumah. Buang benang, kata Herlinawati, memang pekerjaan yang tidak berat. Dia hanya mengecek sebanyak 1 kodi celana atau kemeja dari hasil konveksi.

Hanya menggunting jahitan yang masih tersisa dari celana atau kemeja dengan menggunakan gunting. Itu dilakukan agar bekas jahitan celana terlihat rapi. Sekali mengerjakan 1 kodi celana jeans itu, dia hanya mendapat upah sebesar Rp 3.000 hingga Rp 5.000. "Kerjaan ini tidak setiap hari. Paling seminggu bisa dapat Rp 15.000," ujar Herlinawati.

Berharap BLSM

Walaupun sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ali beserta keluarga besarnya tak tersentuh sama sekali oleh bantuan pemerintah yang baru saja dicanangkan, yaitu bantuan langsung sementara masyarakat (BLSM).

Ayati menuturkan, sebelumnya dia dan seluruh keluarganya pernah didatangi petugas yang mengecek untuk penerimaan BLSM. Namun, hingga pembagian BLSM beberapa waktu lalu, Ayati dan keluarganya tak kunjung mendapat undangan untuk menerima BLSM.

"Waktu itu sempat ada yang datang. Katanya sih mau ngecek buat BLSM. Sempat difoto juga rumah kami. Sempat didata juga. Tapi pendataan selanjutanya nama kami hilang. Saya juga nggak tahu kenapa. Ya akhirnya kami tidak dapat BLSM," tutur Ayati.

Walaupun tak mendapat BLSM untuk membantu kehidupannya sehari-hari. Rosidah mengaku ikhlas dan pasrah. "Kalau Bapak sih kecewa. Tapi kalau dapat ya rezeki saya, kalau tidak dapat ya tidak apa. Maunya sih dapat, buat makan saja sudah alhamdulillah. Susah saya tanpa dibantu BLSM," imbuhnya.

Ayati tak muluk-muluk, jika dirinya nanti mendapatkan dana BLSM. Dia hanya mempunyai sedikit impian. Dia mengatakan, uangnya itu akan dia pergunakan untuk berobat ayah dan ibunya.

"Kalau saya dapat BLSM, buat ibu sama bapak berobat saja. Kasihan mereka sudah tua. Buat jaga kesehatan mereka," harap Ayati. (Frd/Ism)