Melihat Kembali Sejarah Singkat Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Setiap 1 Oktober

Oleh Devira Prastiwi pada 30 Sep 2022, 10:42 WIB
Diperbarui 30 Sep 2022, 11:03 WIB
FOTO: Mengenang Jasa Pahlawan di Monumen Pancasila Sakti
Perbesar
Suasana Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Jumat (1/10/2021). Monumen Pancasila Sakti menjadi salah satu tempat untuk mengenang jasa pahlawan pada Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan peristiwa G30S. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Hari Kesaktian Pancasila diperingati setiap tahunnya pada tanggal 1 Oktober. Pada tahun ini, peringatan Hari Kesaktian Pancasila jatuh pada Sabtu, 1 Oktober 2022.

Biasanya, masyarakat Indonesia akan menggelar upacara Hari Kesaktikan Pancasila. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai wujud untuk mengenang dan menghormati para jasa Pahlawan Revolusi.

Diharapkan pula, peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober dapat digunakan sebagai momen untuk memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Penetapan hari tersebut terkait erat dengan peristiwa yang biasa disebut Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia atau G30S/PKI. Pada 1965 itu, berlangsung peristiwa pembunuhan terhadap sejumlah jenderal.

Enam jenderal dan satu letnan TNI AD itu korban kekejian G30S/PKI pada 1965.

Lantas, mengapa 1 Oktober bisa dikukuhkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila? Apa kaitannya dengan G30S/PKI? Berikut terkait penetapan Hari Kesaktian Pancasila yang dihimpun Liputan6.com:

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.


Jasad Jenderal Ditemukan di Lubang Buaya

20150929-Sambut Hari Kesaktian Pancasila, Museum Lubang Buaya Ramai Dikunjungi Siswa-Jakarta
Perbesar
Anggota Paskibra memerhatikan diorama penangkapan tokoh PKI, Musso di Monumen Pancasila Sakti, Jakarta, Selasa (29/9/2015). Pemerintah akan mengadakan upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober mendatang. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Jenazah enam jenderal dan satu letnan TNI AD ditemukan di sebuah lubang berdiameter 75 sentimeter dan kedalaman 12 meter di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Ketujuh jenazah ditemukan pada 4 Oktober 1965 dengan posisi kepala berada di bawah dan saling bertumpuk.

Ketujuhnya adalah Jenderal TNI (Anumerta) Achmad Yani, Letjen (Anumerta) Suprapto, Mayjen (Anumerta) MT Haryono, dan Letjen (Anumerta) Siswondo Parman.

Lalu Mayjen (Anumerta) DI Pandjaitan, Mayjen (Anumerta) Sutoyo Siswomihardjo, serta Letnan Satu Corps Zeni (Anumerta) Pierre Andreas Tendean.

Kala itu, PKI menuduh para jenderal tersebut akan bertindak makar terhadap Sukarno melalui Dewan Jenderal.

 


Gelar Pahlawan Revolusi

FOTO: Mengenang Jasa Pahlawan di Monumen Pancasila Sakti
Perbesar
Diorama peristiwa G30S di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Jumat (1/10/2021). Monumen Pancasila Sakti menjadi salah satu tempat untuk mengenang jasa pahlawan pada Hari Kesaktian Pancasila berkaitan dengan peristiwa G30S. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Usai menculik dan membunuh enam jenderal dan satu perwira pertama, pasukan Letkol Untung keesokan paginya berhasil mengambil alih Radio Republik Indonesia (RRI) dan menyebarkan propagandanya.

Akan tetapi, perampasan itu hanya terjadi selama kurang dari satu hari, lantaran Kostrad mampu merebut kembali RRI. Selanjutnya, jenazah Ahmad Yani, beserta enam orang lainnya diketemukan di Lubang Buaya.

Selama lima hari, pemberontakan berhasil diredam. Di bawah perintah Mayjen Soeharto, sisa-sisa pemberontak diburu ke seluruh penjuru, termasuk Aidit yang diduga otak Gerakan 30 September atau disingkat G30S.

Berkat segala perannya dan karena telah gugur di medan perang, yaitu Lubang Buaya, akhirnya ketujuh orang itu diberi kehormatan dengan menyandang gelar sebagai Pahlawan Revolusi.

Jasad para jenderal dan satu perwira pertama itu pun akhirnya berhasil ditemukan di sumur Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965.

Kemudian pemerintah Orde Baru menetapkan 30 September sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September. Sedangkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pancasila memiliki kesaktian yang tidak dapat tergantikan oleh paham apapun.

Peneliti media dan pengajar jurnalisme Ashadi Siregar menuturkan, Hari Kesaktian Pancasila mengandung makna perkabungan nasional.

Menurut dia, kekuatan anti Pancasila atau berbagai pemberontakan, perlu disikapi dengan pemahaman kesejarahan yang bersifat rasional, bukan dengan irasionalitas keyakinan saktinya Pancasila.

 


Penetapan Hari Kesaktian Pancasila

Lubang Buaya, Saksi Bisu Kekejaman PKI di Indonesia
Perbesar
Monumen Pancasila Sakti didirikan untuk mengenang keberhasilan Pancasila dalam membendung paham komunis di Indonesia, Jakarta, Selasa (30/9/2014) (Liputan6.com/Johan Tallo)

Kemudian, awal bermulanya Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ialah dari Surat Keputusan Menteri atau Panglima Angkatan Darat Jenderal Soeharto pada 17 September 1966.

Setelah secara resmi surat keputusan ditetapkan, Wakil Panglima Angkatan Darat saat itu yakni Letnan Jenderal Maraden Panggabean menyampaikan dalam jumpa persnya Pancasila sebagai way of life bangsa Indonesia pada 30 September-1 Oktober 1965 mendapat ancaman yang luar biasa sehingga hampir saja musnah dari Bumi Pertiwi.

Pancasila menjadi sumber kekuatan moril dan spiritual bangsa Indonesia. Dalam surat keputusan itu tertulis, bahwa peringatan harus dilakukan dan dilaksanakan oleh seluruh slagorde (pasukan) Angkatan Darat dengan mengikutsertakan angkatan lainnya beserta rakyat.

Kemudian, pada 1 Oktober 1966, prosesi peringatan Hari Kesaktian Pancasila untuk pertama kalinya dilaksanakan dan berlokasi di Lubang Buaya yaitu tempat para jenderal yang gugur ditemukan.

Adapun para pahlawan yang gugur pada peristiwa G30S/PKI dan ditemukan di Lubang Buaya terdiri dari enam jenderal TNI AD dan satu perwira TNI AD, yakni Ahmad Yani, Raden Soeprapto, MT Haryono, Siswondo Parman, DI Pandjaitan, Sutoyo Siswodiharjo, dan Pierre Andreas Tendean. Sedangkan di Yogyakarta, terdapat dua perwira militer yang juga menjadi korban, yaitu Katamso dan Soegiyono.

infografis pancasila
Perbesar
cara negara amankan pancasila (liputan6.com/triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya