AHY Singgung Dampak Negatif Digital: Hoaks Merajalela

Oleh Liputan6.com pada 06 Agu 2022, 04:28 WIB
Diperbarui 06 Agu 2022, 04:28 WIB
Partai Demokrat Daftar Pemilu 2024 ke KPU
Perbesar
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat pendaftaran Partai Politik Calon Peserta Pemilu Tahun 2024 hari kelima di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (5/8/2022). Demokrat menjadi partai politik ke-12 yang mendaftarkan diri untuk calon peserta Pemilu tahun 2024. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan soal dampak negatif era digital yang mungkin akan terasa pada Pemilu 2024.

Ia menyebut akan marak kampanye hitam atau black campaign sampai hoaks akan merajalela.

"Di era digital ini, hoaks, black campaign, fake news (berita bohong), ini merajalela, membabi buta," kata AHY, dalam sambutannya di acara 10 tahun Forum Pemred, di Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Dia menuturkan, di era post truth, politik bukan lagi hal baru. Selain maraknya berita bohong dan black campaign di tahun politik, muncul juga buzzer.

AHY menuturkan, buzzer politik, akan memproduksi berita bohong ke media massa untuk mengacaukan pandangan masyarakat.

"Belum lagi kita menghadapi buzzer-buzzer politik, yang memang tugas dan pekerjaannya memproduksi berita berita bohong tadi," jelas dia.

Sehingga, AHY meminta pers agar bekerja independen dan memberikan informasi kredible kepada masyarakat. Sebab, dia menekankan pada informasi penting yang dibutuhkan oleh Indonesia,

Hal itu diperlukan guna mencegah munculnya perpecahan dan memajukan demokrasi di Indonesia.

"Sekaligus menyejahterakan rakyat Indonesia, itulah yang sama-sama harus kita perjuangkan," pungkasnya.

 


Kadrun hingga Kampret Dinilai Akan Tetap Eksis

Pendiri Drone Emprit and Media Kernels Indonesia, Ismail Fahmi mengungkapkan istilah-istilah panggilan terhadap nama kelompok masih bakal menghiasi di Jagat Media Sosial khususnya yang terkait dengan Kadrun, Cebong, BuzzerRp, dan BuzzeRp untuk melebeli suatu kelompok tertentu.

Ismail menerangkan istilah-istilah tersebut masih ada dan akan berpotensi menjadi pemecah sehingga polarisasi akan terus terbawa.

"Dalam periode 1 tahun terakir setelah pilpres lewat (sejak Januari 2022 hingga April), tradisi saling menyebut kelompok netizen dengan panggilan di atas masih terus berlangsung. Polarisasi yang dilabeli dengan nama-nama ini terus berjalan dan seolah dipelihara", Ujar Ismail Fahmi dalam paparannya mengenai 'Pemilu 2024, Pesta Siapa?' yang diselenggarakan oleh Liputan6.com Rabu 3 Agustus 2022.

 


Paling Sering Muncul

Ismail juga menerangkan dari beberapa panggilan tersebut, Istilah Kadrun paling sering muncul dan dilakukan oleh Netizen.

"Pasca Pilpres sebutan 'Kadrun' yang paling sering dilakukan (54 persen). sisanya dibagi untuk sebutan 'kampret','buzzerRp',dan 'cebong'" Ujarnya.

Ismail menilai seiring dengan masih banyaknya sebutan-sebutan tersebut, maka besar kemungkinan polarisasi akan tetap terjadi.

"Semakin sering panggilan-panggilan ini disebutkan, semakin polarisasi jadi besar dan terus terjaga. Berdasarkan data 1 tahun terakhir, penyebutan 'kadrun' yang paling besar kontribusinya". Katanya

Hal ini disebut akan menjadi Pr bersama untuk dapat mengurangi panggilan tersebut agar masalah polarisasi netizen jelang Pemilu 2024 dapat terselesaikan.

 

 

Reporter: Alma Fikhasari/Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya