Kemenkes Siapkan 10 Laboratorium di Sejumlah Daerah Deteksi Cacar Monyet

Oleh Liputan6.com pada 28 Jul 2022, 07:57 WIB
Diperbarui 28 Jul 2022, 07:57 WIB
Tangkapan mikroskop elektron bagian ultratipis dari virus cacar monyet file 2004. (Gambar: AFP/RKI Institut Robert Koch/Freya Kaulbars)
Perbesar
Tangkapan mikroskop elektron bagian ultratipis dari virus cacar monyet file 2004. (Gambar: AFP/RKI Institut Robert Koch/Freya Kaulbars)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi penularan cacar monyet. Untuk itu,  Kementerian Kesehatan sudah mengeluarkan surat edaran dan menetapkan dua laboratorium untuk terus memantau perkembangan kasus ini.

Cacar monyet merupakan infeksi zoonosis disebabkan oleh infeksi virus cacar monyet dari genus orthopoxviridae. Kasus cacar monyet dilaporkan pertama kali ditemukan di Inggris, 6 Mei.

Kemudian, Organisasi Kesehatan Dunia mengumumkan cacar monyet sudah ada di 75 negara dengan lebih dari 17 ribu kasus. 23 Juli, WHO menetapkan kasus cacar monyet sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Yang Meresahkan Dunia.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Mohammad Syahril mengatakan, status tersebut mengharuskan negara merespons dengan cepat untuk pencegahan, pengendalian dan pengobatan cacar monyet. 

"Sejak awal kami sudah mengumpulkan informasi, mengikuti perkembangan dunia, meningkatkan kewaspadaan publik melalui surat edaran, webinar dan beberapa pertemuan dengan tenaga kesehatan, serta dinas kesehatan," kata Syahril, dikutip dari YouTube Kementerian Kesehatan.

Syahril mengatakan untuk deteksi, Kementerian Kesehatan sudah melalukan penyelidikan epidemiologi dan menyiapkan kapasitas laboratorium. Ada dua laboratorium yang sudah siap, yakni di Laboratorium Penelitian Penyakit Infeksi Prof. Sri Oemyati - BKPK, Kemenkes dan di Pusat Studi Satwa Primata IPB, Bogor.

"Kami juga akan menambah sembilan atau 10 pusat laboratorium yang akan ditempatkan di daerah-daerah strategis," ujar Syahril.

Sedangkan untuk treatment dan vaksin, Kementerian Kesehatan sedang menyiapkan pemenuhan logistik antivirus dan vaksin. "Kami berkomunikasi dengan dunia internaisonal yang sudah melalukan vaksin dan pengobatan."

Kemenkes juga sudah mengeluarkan surat edaran yang ditujukan ke seluruh maskapai, pengelola transportasi darat dan laut, rumah sakit, puskesmas dan fasilitas layanan kesehatan lainnya untuk meningkatkan kewaspdaan. "Bahwa kasus ini bisa saja masuk Indonesia dan kita harus siap," tegas Syahril.

Syahril, mengajak masyarakat mencegah cacar monyet dengan hidup sehat, bersih, dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. Jika mengalami demam dan ruam, Syahril mengimbau agar memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Bukan Kategori Penyakit Menular Seksual

Monkeypox
Perbesar
Ilustrasi penyakit cacar monyet atau monkeypox. Credits: pixabay.com by TheDigitalArtist

Sementara itu, hingga saat ini, cacar monyet belum dinyatakan masuk dalam kategori penyakit menular seksual. Padahal penyakit satu ini dapat menular lewat hubungan seks. Lalu, apakah penyebabnya?

"Tidak dikatakan bahwa ini penyakit menular seksual, tapi kenapa dihubungkan dengan seksual tadi? Yang mau digarisbawahi adalah penularannya tetap melalui jalur droplet dan lewat jalur kontak," dokter spesialis penyakit dalam, Robert Sinto.

"Kalau memang hubungan seksual atau hubungan apapun yang ada kontak erat, ya jadi tertular. Jadi kontaknya ada. Ya, jadi jangan bingung dengan proses penularan yang terjadi itu," tambahnya.

Sehingga, Robert menegaskan bahwa cacar monyet bukanlah penyakit menular seksual. Hanya saja dilaporkan penularan banyak terjadi pada mereka yang aktif secara seksual.

"Jadi jangan salah mengerti. Ini belum dinyatakan sebagai penyakit menular seksual," kata Robert.

Infografis Ragam Tanggapan Cacar Monyet Sebagai Darurat Kesehatan Global. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Ragam Tanggapan Cacar Monyet Sebagai Darurat Kesehatan Global. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya