Soal MyPertamina, Pengamat Keamanan Siber Sebut Pendaftaran Terlalu Rumit

Oleh Ika Defianti pada 15 Jul 2022, 22:55 WIB
Diperbarui 15 Jul 2022, 22:55 WIB
Uji Coba Beli Pertalite Pakai MyPertamina
Perbesar
Warga menunjukan aplikasi MyPertamina saat mengisi bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Kamis (30/6/2022). PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, akan melakukan uji coba pembelian Pertalite dan Solar secara terbatas bagi pengguna yang sudah terdaftar pada sistem MyPertamina, mulai 1 Juli mendatang. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) telah menerapkan uji coba penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi melalui aplikasi MyPertamina ataupun pendaftaran secara langsung di posko yang telah ditentukan. Upaya tersebut untuk memastikan penyaluran BBM subsidi yang mencakup Solar dan Pertalite dapat tepat sasaran.

Namun, pengamat Keamanan Siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya menyatakan banyak hal yang perlu disoroti dari kebijakan tersebut. Menurut dia kebijakan tersebut terkesan buru-buru dan tidak memiliki parameter yang tidak jelas.

Yakni dari kebijakan pembatasan tersebut belum dilakukan secara jelas dan terperinci. Misalnya dari jenis kendaraan, tahun keluar kendaraan, hingga model yang akan dilakukan pembatasan.

"Kendaraan pribadi itu ada yang menengah ke atas menengah ke bawah. Mereka tidak bisa membatasinya, 60 liter itu kebutuhan mobil-mobil tersebut dalam sehari,"kata Alfons kepada Liputan6.com.

Dia menambahkan, "Jadi itulah hal mendasar yang harus diperbaiki terlebih dahulu. Pemerintah juga belum mengeluarkan, mobil ini, jenis ini, tahun ini, cc-nya berapa, kendaraan ini boleh dan yang ini tidak boleh. Kalau kriteria-kriteria tersebut sudah ada, barulah tepat untuk membuat aplikasinya."

Kemudian kata dia, permasalahan selanjutnya mengenai data yang digunakan dalam pendaftaran tersebut. Seharusnya bisa dibuat simpel, tidak terlalu rumit. Seperti halnya data kependudukan yang sudah ada di Dinas Kependudukan setiap daerah. Kemudian Data kendaraan juga sudah ada di kantor Samsat.

"Sebenarnya aplikasi ini hanya perlu menggunakan Aplication Programming Interface lalu dihubungkan ke Dukcapil dan Samsat, lalu ambil saja parameter yang dibutuhkan. Setelah itu akan muncul kriteria-kriteria kendaraan yang boleh dan tidak boleh mendapatkan BBM subsidi. Sebenarnya semudah itu saja untuk mendapatkan QR code," ucap dia.

"Jadi, sebenarnya tanpa handphone pun dengan QR code itu ditempelkan saja di kendaraan dalam bentuk stiker dan itu bisa saja dilakukan, sesimpel apa? Itu dapat dilakukan sewaktu perpanjang STNK saja," sambung Alfons.

Nantinya, kata Alfons, hal tersebut tidak akan bergantung pada network dan mengantisipasi adanya antrean panjang di SPBU."Dengan sistem yang sekarang ini kan nambah antrean. Dengan menggunakan QR Code dari Handphone-lah, terus nanti HP-nya matilah, saldonya tidak keisilah, lalu semisal networknya bermasalahlah, nah itu adalah faktor X yang harus dipertimbangkan," jelas dia.

Pertamina melalui anak usaha Pertamina Patra Niaga akan mewajibkan konsumen BBM jenis Pertalite dan Solar melakukan pendaftaran di situs MyPertamina lebih dulu untuk bisa membeli BBM subsidi tersebut. Pendaftaran sendiri dimulai pada 1 Juli 2022.

Lewat pendaftaran tersebut, masyarakat nantinya akan mendapatkan kode QR khusus yang bisa dicetak atau diakses melalui aplikasi MyPertamina. Menjelang penerapan aturan tersebut, animo masyarakat untuk mengunduh aplikasi MyPertamina pun terlihat mulai meningkat.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Komentar Warganet Soal Aplikasi MyPertamina

Uji Coba Beli Pertalite Pakai MyPertamina
Perbesar
Warga menggunakan plikasi MyPertamina saat mengisi bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Kamis (30/6/2022). Aturan beli pertalite pakai MyPertamina ini baru berlaku bagi pengguna kendaraan roda empat atau mobil.. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Berdasarkan pantauan Tekno Liputan6.com, Kamis (30/6/2022), aplikasi tersebut kini sudah diunduh lebih dari 1 juta kali. Namun, ulasan aplikasi besutan Pertamina tersebut ternyata belum memuaskan.

Hingga berita ini ditayangkan, ada sekitar 127 ribu ulasan mengenai aplikasi ini dan kebanyakan dari pengguna memberikan rating bintang 1. Akibatnya, rating aplikasi MyPertamina secara keseluruhan kini hanya 1,5.

Dari beberapa ulasan bintang 1, banyak dari mereka mengeluhkan aplikasi ini ternyata tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Salah satu yang kerap dikeluhkan masyarakat adalah aplikasi ini kerap mengalami crash.

"Sudah mendaftar. Selalu crash dan menutup sendiri ketika coba dibuka," tulis salah satu pengguna yang memberikan ulasannya di kolom review aplikasi MyPertamina.

Lalu, ada pengguna lain yang menuliskan,"crash ketika loading untuk pertama kali". Selain itu, ada pula beberapa pengguna yang mengeluhkan tidak bisa mendaftar.

"Tidak bisa mendaftar. Masalah server katanya," tulis salah seorang pengguna. Ada pula yang menyebut mereka tidak bisa login di aplikasi, meski sudah berhasil melakukan pendaftaran.

Sejumlah pengguna juga menyatakan kesulitan untuk menghubungkan metode pembayaran dengan LinkAja. "Aplikasi ini bagus, tapi buruk ketika tersinkronisasi dengan LinkAja. Terlalu lambat, banyak gagal," ujar pengguna yang memberikan ulasan di Play Store.

Sebagai informasi, dari laman di Play Store, aplikasi MyPertamina sendiri sebenarnya baru saja mendapatkan pembaruan terakhir pada 28 Juni 2022. Dari keterangan, pembaruan itu membawa sejumlah perbaikan bug.


Uji Coba di Sejumlah Kota

Uji Coba Beli Pertalite Pakai MyPertamina
Perbesar
Petugas melakukan pengisian bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Kamis (30/6/2022). PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, akan melakukan uji coba pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi, Pertalite dan Solar, secara terbatas bagi pengguna yang sudah terdaftar pada sistem MyPertamina, mulai 1 Juli mendatang. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Untuk diketahui, Pemerintah melalui PT Pertamina akan melakukan uji coba pendaftaran pembelian BBM subsidi pertalite dan solar melalui sistem MyPertamina lewat webiste https://subsiditepat.mypertamina.id/ mulai 1 Juli 2022.

Pada tahap 1, ada 11 kota dan kabupaten di 5 provinsi yang akan diterapkan uji coba pembelian pertalite dan solar melalui sistem MyPertamina ini.

Direncanakan, uji coba awal akan dilakukan di beberapa kota/kabupaten yang tersebar di 5 Propinsi antara lain Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta.

Lantas apakah saat membeli BBM Pertalite dan solar melalui sistem MyPertamina, masyarakat harus membawa ponsel atau handphone (HP)?

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Barat Eko Kristiawan mengatakan, mulai 1 Juli 2022 akan dilakukan pendataan bagi pemilik kendaraan roda empat melalui laman subsiditepat.mypertamina.id sebagai website untuk pendaftaran masyarakat.

"Masyarakat tidak perlu khawatir apabila belum mengunduh aplikasi MyPertamina, karena untuk registrasi cukup melakukan pendaftaran di website subsiditepat.mypertamina.id tersebut,” ujarnya.

Ia pun menerangkan jika kendaraan dan identitas masyarakat sudah terkonfirmasi dan terdaftar, kemudian pengguna tersebut akan mendapatkan QR Code Unik yang dapat digunakan melalui aplikasi MyPertamina.

QR Code tersebut bisa diprint, sehingga tidak perlu perlu khawatir jika tidak membawa ponsel saat membeli BBM Pertalite.

Infografis Cara Daftar & Beli Pertalite & Solar Subsidi Pakai MyPertamina Mulai 1 Juli 2022
Perbesar
Infografis Cara Daftar & Beli Pertalite & Solar Subsidi Pakai MyPertamina Mulai 1 Juli 2022 (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya