ACT Diduga Selewengkan Dana Masyarakat, Wagub DKI: Kita Evaluasi Kerja Sama

Oleh Winda Nelfira pada 05 Jul 2022, 08:31 WIB
Diperbarui 05 Jul 2022, 08:31 WIB
Wagub DKI Cek RSUD Pasar Minggu
Perbesar
Wakil Gubernur DKI Riza Patria meninjau Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) khusus Covid-19 di Pasar Minggu, Jakarta, Sabtu (3/10/2020). Kunjungan Riza guna mengecek mulai dari kecukupan dokter dan seluruh tenaga kesehatan pendukungnya hingga stok obat-obatan di rumah sakit (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menanggapi soal organisasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang dituding menyelewengkan dana umat. Terkait itu, Riza menyatakan pihaknya akan mengevaluasi kerja sama.

"Belakangan kita mendapat informasi ada pimpinan yang dianggap bermasalah, tentu nanti kita akan liat ke depan. Kita tentu akan melakukan evaluasi semuanya sejauh mana masalahnya sesungguhnya," kata Riza di Balai Kota DKI Jakarta, Senin 4 Juli 2022.

Diketahui Pemprov DKI kerap melakukan kerja sama dengan ACT. Riza menjelaskan selama ini kerja sama yang dijalin tidak mengalami masalah apapun.

"Selama ini kita bekerja sama dan selama ini tidak masalah, semuanya baik-baik saja dengan ACT," ujar Riza.

Bahkan Riza menyebut program kurban untuk perayaan Hari Raya Idul Adha tahun ini juga bekerja sama dengan ACT. Namun, menurut Riza sejauh tidak ditemukan masalah dalam perkembangan kasusnya, kerja sama akan tetap dilanjutkan.

"Termasuk kurban tidak ada masalah. Di satu sisi, sama kami kan tidak ada masalah, baik-baik saja. ACT dengan lain kalau ada masalah itu urusan ACT dengan yg lain ya," kata Riza

"Yang penting selama ini dengan Jakarta, dengan Pemprov berhubungan baik tidak ada masalah," lanjut dia.

Sebelumnya, dugaan penyelewengan dana donasi umat di ACT viral di media sosial, salah satunya di media sosial Twitter, setelah diulas majalah nasional, Tempo.

Laporan tersebut lantas menjadi topik yang banyak dibicarakan hingga muncul tagar #JanganPercayaACT yang perbincangannya terus bergulir di linimasa.


Polisi Dalami Dugaan Penyelewengan Dana

Sembako
Perbesar
Presiden ACT Ibnu Khajar (kiri) saat memberikan paket sembako dalam Operasi Pangan Murah di Masjid Assuada, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Jumat (15/10/2021) . (ACTNews/Abdurrahman Rabbani)

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, pihaknya saat ini tengah mendalami dugaan adanya penyelewengan dana sumbangan di lingkungan organisasi ACT.

"Informasi dari Bareskrim masih proses penyelidikan dulu," tutur Dedi kepada wartawan, Senin (4/7/2022).

Adapun tagar #JanganPercayaACT sendiri menggaung di sosial media Twitter sejak Senin (4/7/2022) dini hari. Menggantikan #JanganPercayaACT, kini bergema di Twitter 'Aksi Cepat Tilep'. Beragam tanggapan muncul soal beredarnya kabar dana ACT bocor.

Sementara ACT sendiri merupakan kepanjangan dari Aksi Cepat Tanggap, sebuah organisasi kemanusiaan.

Kehebohan ACT ini, bermula dari majalah Tempo edisi Sabtu 2 Juli 2022 mengambil tema Kantong Bocor Dana Umat, Lembaga filantropi Aksi Cepat Tanggap limbung karena berbagai penyelewengan. Pendiri dan pengelolanya diduga memakai donasi masyarakat untuk kepentingan pribadi.

Sontak, laporan tersebut menjadi topik banyak dibicarakan di Twitter. Dari situ, muncul tagar #JanganPercayaACT yang perbincangannya terus bergulir di linimasa.

Beberapa warganet mengaku kaget dengan laporan tersebut, mengingat sepak terjang ACT yang dikenal kredibel sebagai badan amal. Oleh karena itu, ada beberapa warganet yang menyebut agar laporan ini bisa ditindaklanjuti oleh pihak terkait.

"#JanganPercayaACT semoga ini tidak terbukti.. kalau terbukti, beneran bikin sakit hati...semoga tidak terjadi...biar pengadilan yang memutuskan.. hukum berat biar ada efek jera buat pelakunya," tulis salah seorang warganet.

Sementara, ada pula warganet yang terang-terangan mengaku sudah ragu untuk melakukan donasi lewat ACT. Karena itu, warganet tersebut lebih memilih berdonasi ke orang yang membutuhkan, seperti panti asuhan atau panti jompo.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya