Pengamat: Misi Jokowi ke Ukraina dan Rusia Berkaitan dengan G20

Oleh Muhammad Radityo Priyasmoro pada 01 Jul 2022, 09:25 WIB
Diperbarui 01 Jul 2022, 11:19 WIB
Kunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) ke Rusia bertemu Vladimir Putin. (Kremlin)
Perbesar
Kunjungan Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) ke Rusia bertemu Vladimir Putin. (Kremlin)

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menuntaskan misi perdamaiannya terhadap Rusia dan Ukraina yang saat ini tengah berperang. Pengamat Hubungan Internasional Anton Aliabbas mengatakan, misi yang dibawa Presiden Jokowi sebenarnya tak lepas dari agenda Presidensi G-20 yang akan digelar di Bali pada November 2022 mendatang. 

Di mana sebagai pemegang Presidensi G-20, ancaman walkout negara lain atau ketidakhadiran Rusia saat gelaran G-20 dapat berpengaruh terhadap kredibilitas Indonesia maupun keputusan yang akan dihasilkan. 

“Jadi kunjungan (misi perdamaian) ini juga tidak bisa dilepaskan dari upaya melancarkan perhelatan G-20,” kata Anton dalam siaran pers diterima, Jumat, (1/7/2022).

Selain itu, lanjut Anton, Jokowi juga ingin meninggalkan warisan yang baik dalam sejarah kepresidenan Indonesia. Jokowi ingin menorehkan sejarah sebagai pemimpin bangsa yang ikut andil dalam mendamaikan konflik antar negara. 

Menurut Anton, selama 5 tahun periode awal pemerintahan, Jokowi lebih banyak menghabiskan kepemimpinannya dalam penguatan diplomasi bilateral. Akan tetapi, pola tersebut dikembangkan pada periode kedua dengan meningkatkan aktivitas pelaksanaan politik luar negeri dalam forum multilateral. 

“Kunjungan ke Ukraina dan Rusia ini merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan amanat pembukaan UUD 1945 yakni ikut serta dalam menjaga perdamaian dunia,” jelas dia.

Anton meyakini, Jokowi tentu sadar jika langkah yang dilakukannya dengan mendatangi Kyiv dan bertemu Presiden Ukraina Zelensky cukup berisiko. Sebab, perang masih berlangsung dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Apalagi, Rusia masih aktif melakukan serangan ke sejumlah tempat.

“Jadi apa yang dilakukan Jokowi mendatangi dua negara bertikai tentu saja merupakan rangkaian dari upaya untuk menengahi konflik tersebut. Sikap imparsialitas yang ditunjukkan Jokowi dengan aktif menemui dua pemimpin bertikai memang dibutuhkan oleh pihak yang menawari diri sebagai potensial mediator,” beber Anton.

 


Belum Tepat Momentum

Meski misi perdamaian Jokowi sudah selesai, namun menurut Anton, sebenarnya saat ini bukan momentum yang tepat untuk mendorong adanya perundingan damai. Hal itu dikarenakan, Rusia dan Ukraina belum berada pada posisi hurting stalemate atau titik lelah eskalasi konflik bersenjata. 

“Di sisi lain, ripe moment atau masa yang 'matang' untuk memaksa kedua belah pihak duduk di meja perundingan juga belum terbentuk. 

Meski demikian, peluang untuk terjadinya perundingan damai tetap dapat terjadi,” urai Anton.

Salah satunya adalah melalui pendekatan yang intensif kepada para pihak bertikai untuk mau duduk berunding.

“Jokowi punya kans untuk memainkan peranan itu. Tinggal sejauh mana kesiapan dan keseriusan Indonesia untuk menawarkan diri sebagai mediator perundingan damai,” Anton menutup.

Infografis Rencana Kunjungan Jokowi ke Ukraina-Rusia di Tengah Konflik
Perbesar
Infografis Rencana Kunjungan Jokowi ke Ukraina-Rusia di Tengah Konflik (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya