Demokrat: Tidak Pas Anggapan SBY dan JK Ingin Jadi King Maker

Oleh Liputan6.com pada 29 Jun 2022, 20:55 WIB
Diperbarui 29 Jun 2022, 20:55 WIB
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono SBY (SBY) menemui Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di markas NasDem Tower, Gondangdia Jakarta Pusat, pada Minggu (5/6/2022) malam.
Perbesar
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono SBY (SBY) menemui Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh di markas NasDem Tower, Gondangdia Jakarta Pusat, pada Minggu (5/6/2022) malam.

Liputan6.com, Jakarta Partai Demokrat menepis pertemuan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Wakil Presiden ke-10 Jusuf Kalla (JK) di Cikeas sebagai ambisi menjadi 'king maker'.

Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra menegaskan, pertemuan keduanya untuk memikirkan bangsa. Bukan hanya fokus urusan politik.

"Seharusnya kita senang sosok-sosok seperti beliau beliau ini yang waktunya difokuskan untuk memikirkan bangsa yaitu secara umum, tidak fokus hanya urusan partainya saja," kata Zaky sapaan akrabnya saat dihubungi merdeka.com, Rabu (29/6/2022).

Zaky mengatakan, kendali Demokrat saat ini sudah di tangan ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono. Namun, posisi Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono juga sangat strategis untuk berkonsultasi maupun berdiskusi.

"Kalau kami terlalu jauh berpikiran (king maker) dan kurang pas sepertinya kalau melihat dua tokoh bangsa (SBY dan JK) berdiskusi sahabat lama, yang pengalamannya luar biasa," ungkapnya.

Zaky tak ingin pertemuan tokoh bangsa lantas dianggap sekadar kepentingan politik praktis. Anggapan ini tak pas jika selalu ditonjolkan.

"Jadi kalau kami melihatnya enggak pas lah kalau misalnya mereka berdua ingin menjadi king maker kemudian, istilahnya itu tafsiran tafsiran lain yang kurang pas," pungkas Zaky.

Diberitakan, Politisi PDIP Andreas Hugo Pareira menyinggung Pertemuan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Wakil Presiden ke-10 Jusuf Kalla (JK) di Cikeas sebagai ambisi menjadi 'king maker'. Pertemuan mereka itu pun dinilai untuk mengalahkan PDIP di Pemilu 2024.

Politisi PDIP Andreas Hugo Pareira berujar,  rakyat tidak memilih para tokoh untuk menjadi 'king maker'. Tetapi, rakyat pilih calon presiden pada 2024.

"Rakyat kan tidak pilih para tokoh-tokoh yang sedang berambisi jadi 'King Maker'. Rakyat akan pilih capres, toh," kata Andreas kepada merdeka.com, Selasa, 28 Mei 2022.

Andreas memahami soal pertemuan SBY dan JK itu. Dia berkata, semua ingin menang pada pilpres 2024. "Namanya kontestasi pilpres ya pasti semua juga ingin menang. Tapi sampai sekarang belum ada capresnya tuh," ucapnya.

Andreas tidak khawatir soal anggapan  PDIP ditinggal sendiri tanpa rekan koalisi. Justru, kata dia, banyak parpol lain yang ingin berkoalisi dengan PDIP. "Faktanya, banyak yang pengen tuh, berkomunikasi dengan PDI Perjuangan. Malah sudah pada deg-degan tunggu diajak berkomunikasi," ucapnya.

"Kalau enggak percaya, tanya saja ke teman-teman petinggi partai," kata Andreas.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Pertemuan Satukan Visi

Jusuf Kalla
Perbesar
Wakil Presiden RI ke-10 dan 12, Jusuf Kalla berharap Indonesia tidak selalu tergantung industri rokok sebagai andalan saat meresmikan JK Arenatorium, Universitas Hasanuddin, Makassar Sulawesi Selatan, Kamis, 12 November 2020. (Tim Media Jusuf Kalla/JK)

Sementara, Pengamat Politik Adi Prayinto menilai pertemuan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Wakil Presiden ke-10 Jusuf Kalla (JK) di Cikeas, Bogor demi kepentingan pemilu 2024. Adi menduga, pertemuan dua tokoh tersebut untuk menyatukan visi yakni mengalahkan PDI Perjuangan.

Adi mengatakan, semakin kuatnya sinyal tersebut karena pertemuan antara SBY dengan JK bersamaan dengan pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh.

"Kenapa saya sebut untuk kepentingan 2024. Pertama, NasDem menominasikan Anies Baswedan sebagai kandidat capres dan itu pilihan paling realitas untuk NasDem. Karena kalau Ganjar pasti bentrok dengan PDIP. Kalau Andika Perkasa pasti diprotes publik sebagai jenderal aktif yang tak boleh berpolitik. Maka pilihan rasional adalah Anies," kata Adi Prayitno, dalam diskusi di Jakarta, Jumat (24/6/2022).

Menurutnya, bila NasDem mengusung Anies sebagai capres, maka Demokrat pasti akan tertarik untuk bergabung. Adi menyakini hal itu sudah dipastikan bahwa poros tersebut mampu mengalahkan PDI Perjuangan.

"ketika Anies (diusung) maka Demokrat tertarik bergabung, kenapa? tentu kepentingannya sama ingin mengalahkan dominasi PDIP yang dua periode memenangkan pertarungan," ucapnya.

"Artinya ketika NasDem mengusung nama seperti Anies secara tidak langsung kan ingin bikin front terbuka dengan PDIP. Bahkan dengan pemerintah," sambung Adi Prayitno.

Sebab, jika pertemuan SBY-JK hanya romantisme sahabat lama, maka tidak perlu bertemu langsung di kediaman SBY.

"Dalam konteks itulah JK adalah mentor utamanya Anies Baswedan karena momen pertemuan dengan SBY dan JK bersamaan dengan pertemuan AHY NasDem itulah yang semakin menebalkan bahwa JK dan SBY pasti bicara tentang Demokrat bergabung dengan NasDem," paparnya.

"Dan tentu saja mengusung Anies Baswedan dan sangat mungkin AHY disodorkan sebagai cawapresnya," tambah Adi Prayitno.

 

Reporter: Muhammad Genantan Saputra

Sumber: Merdeka.com

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tag Terkait

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya